Penggolongan Manusia Mu'min | Psikologi Umum





Disusun Oleh :
        Ameliya Adiningsih                1186000022
                   Availa Khoerunnisa                1186000033
        Boy Chandra                            1186000044
                   Dhaifan Adrian                       1186000055
        Fani   Novianti                         1186000066

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2018
DAFTAR ISI

BAB I.  PENDAHULUAN
1.1               Latar Belakang
1.2              Tujuan Penulisan
1.3              Pembatasan Masalah
1.4              Perumusan Masalah
1.5              Judul Makalah

BAB II  PEMBAHASAN
2.1   Pengertian dzalim secara bahasa dan kategori zalim
2.2  Bentuk - Bentuk Perilaku Dzolim
2.3  Dzolim Dalam Fenomena Masyarakat

BAB III PENUTUP
3.1   Kesimpulan
3.2   Saran

DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi umat manusia hingga hari Kiamat. Diturunkan oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril dan disampaikan kepada Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an senantiasa dijaga kemurnian isinya oleh Allah, dan tiada keraguan sedikit pun didalamnya. Didalamnya mengandung berbagai ilmu sebagai tuntunan umat manusia dalam kehidupan dunia sampai akhirat kelak. Al-Qur’an memuat hukum-hukum serta mengisahkan suri tauladan yang baik melalui kisah-kisah nabi yang dapat kita ambil nilai-nilai positifnya.
Salah satu surat yaitu Surat Al-Fath mengisahkan beberapa sifat dari orang mukmin. Dapat menjadi tuntunan serta dorongan untuk kita sebagai umat Islam untuk menuju kesempurnaan seorang mukmin sejati. Sehubungan dengan hal tersebut, makalah ini berusaha memaparkan mengenai sifat-sifat orang mukmin berdasarkan penggolongannya.
1.2 Rumusan Masalah
Masalah  yang  akan  dibahas  dalam  makalah  ini  dapat  dirumuskan sebagai berikut :
1.      Teori dasar
2.    Pengertian orang mukmin
3.    Sifat-sifat orang mukmin
4.    Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Fath : 29
5.     Aplikasi dalam kehidupan
6.    Aspek Tarbawi

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini  adalah :
1.      Untuk mengetahui lebih lanjut tentang sifat-sifat orang mukmin
2.    Untuk mengetahui lebih jelas tentang tafsir dalam Q.S Al-Fath : 29
3.    Untuk menambah pengetahuan tentang penggolongan orang mukmin
4.    Untuk memenuhi  salah  satu  tugas  dari  mata  kuliah  Psikologi Umum
5.     Sebagai kegiatan diskusi mahasiswa UIN Bandung

1.4 Manfaat Penulisan

Dalam  manfaat  penulisan  ini  penulis  berharap  makalah  ini  dapat bermanfaat  bagi  penulis, rekan sekelas maupun satu angkatan  dan  para  pembaca  makalah  ini, khususnya bagi dosen yang memberi tugas makalah ini.
.
1.5  Judul Makalah
Makalah ini penulis beri judul “Penggolongan Manusia Mukmin (Sifat-Sifat Orang Mukmin)” sesuai tugas yang diterima penulis.
1.6 Nash dan Arti Al-Qur’an Surat Al-Fath ayat 29
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمً
Artinya:
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”

1.7  Urgensi Pembahasan
Dalam Al-Qur’an surat Al-Fath sudah sangat jelas diterangkan bahwa sifat seorang mukmin diantaranya sangat menentang, bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kemudian mereka mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Pengkajian materi tersebut sangat penting dilakukan karena sebagai ummat Islam penting bagi kita untuk mengetahui arti esensial dari beriman kemudian berproses sebagai orang mukmin. Selain itu,n kita dapat termotivasi dan senantiasa berkaca diri untuk menjadi mukmin sejati, melalui sifat-sifat orang mukmin yang telah dijelaskan dalam surat tersebut.



BAB I
PEMBAHASAN
2.1 Teori Dasar
Meskipun iman merupakan keyakinan teguh yang tak dicampuri kebimbangan bahwa Allah SWT ada dan Dia mengutus rasul-rasul-Nya serta menurunkan kitab suci kepada mereka untuk membimbing umat manusia dan mengarahkan mereka pada jalan petunjuk yang jika diikuti dengan konsisten akan membawa keselamatan bagi mereka dihari perhitungan disamping mewujudkan kebahagiaan didunia ini, namun keimanan ini belum sempurna kecuali jika diiringi dengan aktualisasi perintah Allah dalam bentuk menunaikan shalat, membayar zakat, dan ibadah-ibadah lain.
Selain itu, keimanan ini juga belum sempurna kecuali jika pemiliknya menentang hawa nafsunya, lalu menjauhi segala perilaku nista dan enghiasi diri dengan segala perilaku utama. Iman memiliki pengaruh besar dalam hati orang mukmin. Ia menuntun seseorang untuk meneladani Rasulullah SAW dalam menghiasi diri dengan akhlak yang luhur dan mulia. Hal itu merupakan buah kecintaan (mahabbah) pada Allah dan Rasul-Nya yang mewujudkan kesempurnaan iman.[1]
2.2          Pengertian Orang Mukmin
Orang mukmin ialah orang yang taat kepada Allah swt dengan sebenar-benarnya. Dalam ari senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan berjihad dengan harta, jiwa mereka pada jalan Allah swt.
2.3         Sifat-sifat orang mukmin

1.     Orang mukmin apabila disebut nama Allah swt dan mendengar ayat-ayat Al-Qur’an gemetar hatinya dan bertambah besar imannya kepada Allah
2.   Orang mukmin selalu tolong menolong dan beramal sholeh.
3.   Orang mukmin baik laki-laki maupun perempuan, menjadi penolong bagi siapapun yang membutuhkan. Dan berbuat kebaikan serta mencegah kemungkaran.
4.   Menyerahkan segala urusan dan bersandar kepada Allah semata
5.    Orang mukmin memiliki rasa takut dalam hatinya. Hanya orang yang beriman jika disebutkan nama Allah muncul rasa takut dalam hatinya. Rasa takut sebagai bentuk mengagungkan Allah.[2] 
Seorang mukmin sejati dengan demikian akan menjauhkan diri dari berbagai kenistaan dan dosa sebab ia meyakini dengan keyakinan yang teguh bahwa Allah SWT Maha Memperhatikan dirinya dalam segala situasi dan kondisinya. Seorang mukmin sejati meyakini bahwa Allah SWT mengetahui segala yang terjadi di semesta raya ini, termasuk apa yang bergejolak dalam diri manusia dalam bentuk hasrat atau kecenderungan dan apa terkandung dalam pikiran.[3]
2.4         Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Fath : 29
Terdapat beberapa tafsir mengenai Qur’an surat Al-Fath ayat 29, diantaranya :
1.      Tafsir Al-Azhar
“Muhammad adalah utusan Allah!” (pangkal ayat 29). Lantaran persaudaraan yang rapat maka timbullah persatuan sikap dan perangai, yaitu: “Dan orang-orang ada besertanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, sayang-menyayangi diantara sesama meraka.” Begitu lah sikap hidup dari ummat yang telah mengaku tidak ada Tuham melainkan Allah dan Muhammad Rasulullah itu. Dia sesama sendiri, bersatu akidah, bersatu pandangan hidup adalah cinta-mencintai seberat seringan, sehina semalu, seberat sama dipikul, ringan sama dijinjing dengan sesama beriman. Lalu sambung ayat selanjutnya: ”Engkau lihat mereka itu ruku’, sujud mengharapkan karunia dari Allah dan ridhaNya.
Nampak tertonjol sifat Mu’min yang ketiga yaitu mereka selalu memperkokoh iman yang telah tumbuh dalam dada dengan memperkuat ibadat, ruku’ dan sujud, sembahyang dengan khusyu’, tidak ada yang meraka harapkan dari yang lain, kecuali semata-mata dari Tuhan. Maka bertambah kuat ibadahnya yang demikian, niscaya bertambah kuat pulalah hubungan dan kasih sayang diantara satu samal lain dan bertambah pula keras disiplin mereka menghadapi musuhnya.
Lalu ditunjukkan lagi tanda yang istimewa pada orang-orang beriman itu:”Ada tanda-tanda mereka pada wajah-wajah mereka dari sebab bekas sujud.” Wajah mereka bersinar , tidak cemberut, tidak beringis, melainkan memancarkan kejernihan selalu. Di waktu sujud itu insaflah dia akan kerendahan dirinya dihadapan Ketinggian dan Kemuliaan Allah.
Demikianlah perumpamaan mereka mereka di dalam Taurat, bahwa pada wajah mereka bersinarlah wajah yang jernih berseri dari sebab bekas sujud mereka kepada Tuhan. Kemudian itu selanjutnya berkata pula ayat: “Dan perumpamaan mereka didalam Injil: laksana tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka bertumbuhlah dia kian besar.
Ujung ayat ini mengandung harapan yang besar bagi orang yang selama ini telah kena bujukan, rayuan, tipuan dan paksaan agar ,menukar agamanya yang hak dengan batil, jika mereka insaf dan taubat, bahwa taubat mereka akan diterima. Tauhid dan Akidah, Iman dan Takwa dan tidak ada tempat berlindung selain dari Allah, itulah pegangan manusia yang sejati dan pokok pendirian demikianlah jualah manusia akan kembali.[4]
2.    Tafsir Al-Luba^b
Nabi Muhammad saw. adalah utusan Allah swt yang diutus membawa rahmat bagi seluruh alam. Adapun orang-orang yang bersama dengan beliau, yakni sahabat-sahabat Nabi serta pengikut-pengikut setian beliau, maka mereka itu adalah orang-orang yang bersikap keras, yakni tegas, tidak berbasa-basi yang mengorbankan aqidah, terhadap orang-orang kafir, tanpa keluar dari koridor rahmat risalah ini. Walau mereka memiliki sikap tegas, namun-lanjut ayat ini: Mereka berkasihsayang antar sesama kaum beriman. Engkau siapa pun engkau, dimana dan kapan pun, akan selalu melihat mereka ruku’ dan sujud. Itu mereka lakukan dengan tulus ikhlas, demi mencari dengan sungguh-sungguh karunia Allah swt. Dan keridhaan-Nya yang agung. Tanda-tanda yang tidak pernah luput dari mereka selalu tampak pada wajah mereka berupa cahayadari bekas sujud, yakni yang menghasilkan wibawa, penghormatan, dan kekaguman siapapun yang melihat mereka.
Sifat-sifat mereka yang demikian agung yang luhur itulah tertaktub dalam Taurat, yakin kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Musa as. Sedangkan sifat-sifat mereka yang mengagumkan yang tertaktub dalam Injil, Nabi Isa as., adalah seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus diatas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya. Demikian itulah kedaan orang-orang Mukmin pengikut Nabi Muhammad saw. Dengan sifat-sifat itu, Allah swt. Pada akhirnya menjengkelkan hati orang-orang kafir, yakni dengan pertumbuhan, perkembangan, dan penambahan jumlah dan kekuatan kaum Muslim. Allah swt. Menjanjikan untuk orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh diantara mereka yang bersama Nabi Muhammad serta siapa pun yang mengikuti cara hidup mereka menjanjikan bagi mereka semua ampunan dan pahala yang besar.[5]
3.    Tafsir Al-Maraghi
Setelah Allah menyebutkan bahwa Dia mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama Islam, supaya Dia meluhurkan derajat agama tersebut atas semua agama-agama yang lain, maka dilanjutkan dengan menerangkan ihwal rasul dan umat yang kepada mereka ia diutus. Allah menggambarkan mereka dengan sifat-sifat yang seluruhnya terpuji dan merupakan peringatan bagi generasi sesudah mereka dan sifat-sifat itulah mereka dapat menguasai bangsa-bangsa lain dan memiliki negeri-negeri mereka, bahkan menggenggam tampuk kepemimpinan seluruh dunia. Yaitu :
1.      Bahwa mereka bersikap keras terhadap siapapun yang menentang agama-Nya, dan mengajak bermusuhan, dan bersifat belas kasih terhadap sesama mereka.
2.    Bahwa mereka menjadikan shalat dan keikhlasan kepada Allah sebagai kebiasaan mereka pada kebanyakan waktu
3.    Bahwa mereka dengan amal mereka mengharapkan pahala dari Tuhan mereka dan kedekatan di sisi-Nya serta keridhaan dari-Nya
4.    Bahwa mereka mempunyai tanda yang dengan itu mereka mudah dikenal. Yakni bahwa mereka bercahaya pada wajah mereka, khusyu’ dan tunduk yang bisa dikenali oleh orang yang cerdas
5.     Bahwa Injil mengumpamakan keadaan mereka dengan mengatakan, akan muncul suatu kaum yang akan tumbuh bagaikan tumbuhnya tanaman, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran.[6] 
2.5Aplikasi dalam Kehidupan
1.      Senantiasa ikhlas dan khusyu’ dalam melaksanakan ibadah
2.    Berusaha menjadi pribadi yang berbelas kasih, saling tolong menolog terhadap sesama
3.    Selalu berdzikir kepada Allah
4.    Senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dengan cara-cara yang baik
5.     Beramal shaleh semata mata mengharap keridhaan Allah
6.    Menerapkan suri tauladan yang diberikan oelh Nabi Muhammad SAW sebagai bekal berproses menjadi mukmin sejati
2.6         Aspek Tarbawi

1.     Sifat Nabi Muhammad saw dan orang-orang mukmin yang ada bersamanya sebagai umat yang belas kasih dan bersikap tegas
3 Sikap keras terhadap yang kafir bukan berarti kejam, melampaui batas kemanusiaan. Sifat ini lebih banyak diperagakan oleh kaum beriman pada saat perang atau dalam penegakan hukum. Di sisi lain, kata kafir tidak selalu digunakan Al-Qur’an dalam arti non-Muslim, tetapi siapapun yang melakukan aktivitas yang bertentangan dengan tujuan dan nilai-nilai agama.
4 Janji untuk orang-orang mukmin dan ancaman terhadap orang-orang kafir dan munafik
5  Janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh bahwa mereka akan mendapat ampunan dan pahala yang besar
6 Bekas sujud yang terlihat pada wajah orang-orang Mukmin bukan dalam arti bekas yang terlihat di dahi seseorang yang boleh jadi akibat seringnya dahi tersebut bersentuhan degan benda keras. Bekas sujud yang dimaksud adalah waibawa, karisma, kekhusyukan sehingga yang melihatnya tergugah untuk kagum dan berdzikir.


BAB III
KESIMPULAN
Dari beberapa penjelasan di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa seorang mukmin haruslah dapat memiliki landasan hidup yang kukuh dan benar, yakni landasan hidup berdasarkan Wahyu Allah SWT. Dengan landasan hidup tersebut orang beriman memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan manusia lain. Hidup manusia yang tidak dilandasi iman, tak ubahnya seperti kehidupan hewan ternak,  yang hanya makan, minum, bekerja, tidur, dan beranak. Sebaliknya, dengan landasan iman, hidup manusia akan terarah, sesuai dengan yang dihekendaki penciptanya, yakni Allah SWT.



BAB IV
PENUTUP
Pernahkah engkau melihat orang lain melakukan suatu kemaksiatan, dan geram ingin menghukum seberat-beratnya. Jika ya, cobalah engkau pikirkan lagi kalimat ini :

Jika engkau terjatuh pada kemaksiatan yang sama dengan orang itu, apakah engkau akan menghukum dirimu sendiri, sebagaimana (seberat) engkau ingin menghukum orang lain tersebut.

Sesungguhnya, jika hal ini engkau lakukan, maka engkau untuk pertama kalinya, engkau akan dapat menyayangi semua orang, walaupun ia melakukan kemaksiatan. [7]

Kesimpulannya, Allah ta’ala mencintai seorang mukmin yang memiliki kekuatan mentalitas dan fisik, yang membuatnya kuat dalam penyebaran Agama-Nya dan dalam jihad fisabilillah, dan ini lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah. Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  : “ Dan masing-masingnya mempuyai kebaikan “, maknanya bahwa masing-masing mukmin baik yang kuat maupun lemah memiliki kebaikan, karena keduanya konyungtif pada perihal keimanan,  pada sisi pelaksanaan ibadah-ibadah si mukmin lemah .



Daftar Pustaka
[1] Muhammad Fauqi Hajjaj, Tasawuf Islam & Akhlak, (Jakarta: AMZAH, 2013), hlm .229-230
[2] Ikhwan,Orang Mukmin dan Pengertian Mukmin http://ikhwan-perbaungan.blogspot.co.id. Diakses pada tanggal 5 September 2018, pukul 20.21 WIB
[3] Muhammad Fauqi Hajjaj,Op.,Cit,hlm.227
[4] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XXVI,(Jakarta:Pustaka Panji Mas, 2003),hlm.175-178
[5] M.Quraish Shihab, AL-LUBAB (Makna, Tujuan dan Pelajaran dari Surah-surah Al-Qur;an), (Tangerang: Lentera Hati, 2012) Cet.I, hlm.717
[6] Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Terjemah Al-Maraghi,(Semarang:Toha Putra, 1986),hlm.194
[7] http;//pustakahikmah.unpad.ac.id/?cat=3 Diakses pada tanggal 5 September 2018, pukul 20.51 WIB


Related Posts:

0 Response to "Penggolongan Manusia Mu'min | Psikologi Umum"

Post a Comment