PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam kehidupan manusia pasti mengalami gangguan
yang datang dari kontak sosial maupun yang lain. Oleh karena itu, berbagai cara
dilakukan oleh para ilmuwan, dan akhirnya membuahkan ilmu psikologi yang
membahas kejiwaan manusia.
Dalam
psikologi ada banyak macam ilmu, salah satunya adalah psikologi perkembangan.
Psikologi perkembangan merupakan suatu cabang ilmu psikologi yang membahas
perkembangan kejiwaan manusia dari prenatal sampai orang tua.
Maka dari itu makalah ini mencakup tentang
pengertian, ruang lingkup, konsep dasar, dan sejarah dari psikologi
perkembangan.
Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian Psikologi Perkembangan?
2. Apa sajakah Objek-objek Psikologi perkembangan?
3. Apa ruang lingkup Psikologi perkembangan?
4. Apa Tujuan psikologi perkembangan?
5. Bagaimana sejarah dari psikologi
Perkembangan?
Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui
tentang pengertian psikologi perkembangan, manfaat, ruang lingkup, dan sejarah
dari psiskologi perkembangan, agar nantinya dapat bermanfaat untuk kehidupan.
Manfaat
Makalah ini diharapkan
orang-orang memliki pengetahuan tentang Psikologi Perkembangan
Metode Penulisan
Dalam
penulisan ini, penulis menggunakan metode deskriptif dengan teknik study literature
BAB II
ISI
Ruang Lingkup
Psikologi Anak (mencakup
masa bayi)
Sejak bayi lahir sampai
bayi berumur kira-kira 10 atau 15 hari. Dalam perkembangan manusia masa ini
merupakan fase pemberhentian (Plateau stage) artinya masa tidak terjadi
pertumbuhan/perkembangan. Ciri-ciri yang penting dari masa bayi baru lahir ini
ialah:
Periode ini merupakan
masa perkembangan yang tersingkat dari seluruh periode perkembangan. Periode ini merupakan
saat penyesuaian diri untuk kelangsungan hidup/ perkembangan janin. Periode ini ditandai
dengan terhentinya perkembangan. Di akhir periode ini bila si bayi selamat maka merupakan awal
perkembangan lebih lanjut.
Dimulai dari umur 2
minggu sampai umur 2 tahun disebut dengan masa bayi. Masa bayi ini dianggap
sebagai periode kritis dalam perkembangan kepribadian karena merupakan periode
di mana dasar-dasar untuk kepribadian dewasa pada masa ini diletakkan.
Setelah itu berlanjut
dengan masa kanak-kanak. Awal masa kanak-kanak berlangsung dari dua sampai enam
tahun. Masa ini dikatakan usia pra kelompok karena pada masa ini anak-anak
mempelajari dasar-dasar perilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial
yang lebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu masuk kelas
1 SD.
Kemudian akhir masa
kanak-kanak atau masa anak sekolah berlangsung dari umur 6 tahun sampai umur 12
tahun. Selanjutnya Kohnstam menamakan masa kanak-kanak akhir atau masa anak
sekolah ini dengan masa intelektual, dimana anak-anak telah siap untuk
mendapatkan pendidikan di sekolah dan perkembangannya berpusat pada aspek
intelek. Adapun Erikson menekankan masa ini sebagai masa timbulnya “sense of
accomplishment” di mana anak-anak pada masa ini merasa siap untuk enerima
tuntutan yang dapat timbul dari orang lain dan melaksanakan/menyelesaikan
tuntutan itu. Kondisi inilah kiranya yang menjadikan anak-anak masa ini memasuki
masa keserasian untuk bersekolah.
2. Psikologi Puber dan Addolesensi (psikologi
pemuda)
Masa Puber merupakan
periode yang tumpang tindih Karena mencakup tahun-tahun akhir masa kanak-kanak
dan tahun-tahun awal masa remaja. Yaitu umur 11,0 atau 12,0 sampai umur 15,0
atau 16,0.
Kriteria yang sering
digunakan untuk menentukan permulaan masa puber adalah haid yang pertama kali
pada anak perempuan dan basah malam pada anak laki-laki. Ada empat perubahan
tubuh yang utama pada masa puber, yaitu:
· Perubahan besarnya tubuh.
· Perubahan proporsi tubuh.
· Pertumbuhan ciri-ciri seks primer.
· Perubahan pada ciri-ciri seks sekunder.
3. Psikologi Orang Dewasa
Masa dewasa adalah
periode yang paling penting dalam masa khidupan, masa ini dibagi dalam 3
periode yaitu: Masa dewasa awal dari umur 21,0 sampai umur 40,0. Masa dewasa
pertengahan, dari umur 40,0 sampai umur 60,0. dan masa akhir atau usia lanjut,
dari umur 60,0 sampai mati.
Masa dewasa awal adalah
masa pencaharian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh
dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode
komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas san
penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Kemudian dilanjutkan dengan masa
dewasa madya.
Masa dewasa madya ini
berlangsung dari umur empat puluh sampai umur enam puluh tahun. Ciri-ciri yang
menyangkut pribadi dan sosial pada masa ini antara lain:
· Masa dewasa madya merupakan periode yang ditakuti dilihat darin
seluruh kehidupan manusia.
· Masa dewasa madya merupakan masa
transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku
masa dewasanya dan memasuki suatu periode dalam kehidupan dengan ciri-ciri
jasmani dan prilaku yang baru.
· Masa dewasa madya adalah masa berprestasi.
Menurut Erikson, selama usia madya ini orang akan menjadi lebih sukses atau
sebaliknya mereka berhenti (stagnasi).
· Pada masa dewasa madya ini perhatian
terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan
kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan
pribadi dan sosial.
4. Psikologi Orang Tua.
Usia lanjut atau usia
tua adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dri
umur enam puluh tahun sampai mati, yang di tandai dengan adanya perubahan yang
bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun.
Pengertian Psikologi Perkembangan
Psikologi perkembangan merupakan cabang
dari ilmu Psikologi. Psikologi sendiri merupakan istilah dari bahasa inggris,
yaitu “Psychology”. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani “psyche” yang
berarti roh, jiwa atau daya hidup, dan “logos” yang berarti ilmu. Jadi, secara
harfian “Psychology” berarti “Ilmu Jiwa”.
Perkembangan adalah perubahan-perubahan
yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangan yang bersifat
sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik secara fisik atau psikis.
Beberapa
definisi psikologi perkembangan menurut para ahli :
1. Prof.
Dr. F.J Monks, Prof. Dr. A.M.P knoers, dan Prof. Dr. Siti Rahayu Haditoro
Psikologi perkembangan adalah ilmu yang
lebih mempersoalkan faktor-faktor umum yang mempengaruhi proses perkembangan
yang terjadi dalam diri pribadi seseorang, dengan menitikberatkan relasi antara
kepribadian dan perkembangan.
2. Dra.
Kartini Kartono
Psikologi perkembangan adalah suatu ilmu yang
mempelajari tingkah laku manusia yang dimulai dengan masa bayi, anak pemain,
anak sekolah, masa remaja, sampai masa dewasa.
Tujuan
Psikologi Perkembangan
1. Menjelaskan
Perbedaan individual ddalam tingkah laku
2. Mempelajari
pengaruh konteks / situasi dimana tingkah laku muncul
3. Mempelajari
perbedaan yang bersifat pribadi pada masa perkembangan tertentu
4. Mempelajari
tingkah laku pada lingkungan tertentu yang menimbulkan reaksi berbeda
Mempelajari
penyimpangan dari tingkah laku yang
dialami seseorang
Konsep Psikologi Perkembangan
Manusia mengalami 4
perubahan:
1. Perubahan
Fisik-Pertumbuhan
2. Perubahan
Kesiapan melakukan fungsi-kematangan fungsi-kematanagan
3. Perubahan secara
sadar membandingkan kemampuan melakukan fungsi belajar
4. Perubahan
psikologis menjalankan tugas kehidupan perkembangan
Pada mulanya, psikologi perkembangan mengkhususkan
diri pada masalah usia dan tahapan-tahapan. Para penyelidik terdorong untuk
mempelajari usia yang khas dan tertentu dimana terjadi berbagai tahapan
perkembangan. Begitu kata Siegel.
Sebagai
suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri, psikologi perkembangan telah melewati
sejarah yang cukup panjang
Sejarah perkembangan psikologi perkembangan dibagi menjadi 3:
1. Minat Awal Mempelajari Perkembangan Anak
2. Dasar-dasar pembentukan psikologi perkembangan
secara ilmiah
3. Munculnya psikologi perkembangan modern
Dan berikut
adalah Penjelasan sejarah Psikologi Perkembangan
1. Minat awal
mempelajari perkembangan anak
Jauh sebelum dilakukan studi ilmiah terhadap
perkembangan anak, perhatian dan penyelidikan tentang anak- anak sedikit sekali
dilakukan. Bahkan buku-buku khusus tentang perkembangan jiwa anak sedikit
sekali. Serta pemahaman mengenai anak-anak masih sangat dipengaruhi keyakinan
tradisional yang bersumber dari filosof dan teolog tentang anak , serta
lingkungan dan keturunan.
Plato (427-346 SM) merupakan salah seorang filosof
yang banyak mempengaruhi pandangan masyarakat tentang kehidupan anak.
Menurut Plato, perbedaan-perbedaan individual mempunyai dasar genetis. Potensi
individu ditentukan oleh factor keturunan. Artinya, sejak lahir anak telah
memiliki bakat-bakat atau benih-benih kemampuan yang dapat dikembangkan melalui
pengasuhan dan pendidikan.
Pada akhir abad ke-17, seorang filosof Inggris
keamanan, John Locke (1632-1704) mengemukakan bahwa pengalaman dan pendidikan
merupakan factor yang paling menentukan dan perkembangan anak. Ia tidak
mengakui adanya kemampuan bawaan (innate knowledge) . sebaliknya menurut
beliau isi kejiwaan anak ketika dilahirkan adalah ibarat secarik kertas yang
masih kosong, dimana bentuk dan corak kertas tersebut nantinya sangat
ditentukan oleh bagaimana kertas itu ditulisi. Dikenal dengan istilah “tabula
rasa” (Blank slate)
Pandangan-panadangan John Locke ini kemudian
ditentang oleh Jean Jacques Rousseau (1712-1778), seorang filosof Perancis abad
ke 18, yang berpandangan bahwa anak berbeda secara kualitatif dengan orang
dewasa. Ia sama sekali menolak pandangan bahwa bayi adalah makhluk pasif, yang
perkembangannya ditentukan oleh pengalaman.
Dalam bukunya emile ou I’education yang
diterbitkan tahun 1762, Rousseau menolak pandangan bahwa anak memilki sifat
bawaan yang buruk (innately bad). Sebaliknya Rousseu
menegaskan bahwa : “ All things are good as they come out of the hands
of their creator, but everything degenerates in the hands of man.” (
segala-galanya adalah baik sebagaimana keluar dari tangan Sang Pencipta,
segala-galanya memburuk dalam dalam tangan manusia). Dan dikenal dengan
istilah “noble savage”, dan digolongkan sebagai pandangan yang
beraliran “Nativisme”. Sebaliknya pandangan Locke merupakan aliran “Empirisme”
. kedua pertentangan ini kemudian menjadi titik awal timbulnya “teori
belajar” (learning theory) dikemudian hari.
2. Pembentukan psikologi perkembangan secara ilmiah
Gambaran tentang masa anak-anak yang diungkapkan
oleh Plato, Locke, dan Rousseau pada dasarnya bersifat spekulatif karna tidak
mengajukan bukti-bukti yang nyata dari hasil observasi pada anak-anak. Tetapi
penelitian yang lebih terarah terhadap kehidupan dan perkembangan psikis anak
baru dimulai pada abad ke-18, walaupun jika ditinjau dari segi ilmiah dan
sistematika dapat dikatakan belum memuaskan.
Dalam periode ini sumber penting untuk mempelajari
anak adalah catatan-catatan harian mengenai perkembangan dan tingkah laku anak.
Tetapi catatan-catatan itu baru ditulis terhadap anak-anak sendiri. Misalnya
seorang ahli pedidikan dari Swiss, Johan Heinrich Pestalozzi (1746-1827) pada
tahun 1774 menerbitkan catatan-catatan harian yang ditulis terhadap anaknya
sendiri yang berusia 3,5 tahun. Dan dia mendukung pendapat Rousseau bahwa
seorang anak yang dilahirkan pada dasarnya mempunyai segi-segi yang baik, dan
perkembangan selanjutnya banyak dipengaruhi oleh aktivitas anak itu sendiri.
Beberapa waktu kemudian, Dietrich Tiedeman, seorang
tabib berkebangsaan Jerman, juga melakukan hal yang sama. Pada tahun 1787
Tiedeman memperkenalkan hasil penelitian berdasarkan catatan harian terhadap
pekembangan anaknya sendiri yang berusia 2,5 tahun yang meliputi perkembangan
sensoris, motoris, bahasa dan intelek anak.
Perhatian dan penyelidikan yang sesungguhnya
tentang perkembangan anak melalui observasi langsung baru dimulai pada abad
ke-19 dan tokoh yang cukup berpengaruh adalah Charles Darwin dan Wilhelm Wundt.
Pengaruh Darwin (1809-1882) sangat besar meskipun
jika disimpulkan catatan-catatn harian Darwin tidak bisa dikatakan mempunyai
nilai-nilai ilmiah yang kuat. Tapi ini merupakan titik awal studi yang lebih
sistematis. Pandangan biologis Darwin yang menganggap perekembangan sebagai
pembukaan kemampuan dan ciri-ciri yang telah terprogram secara genetic, kemudian
menjadi landasan bagi sejumlah teoritis psikologi perkembangan. Bahkan riset
terakhir mengenai perkembangan biologi-saraf, juga meneruskan tradisi Darwin.
Sementara pengaruh Wilhelm Wundt (1832-1920) beliau
merupakan orang yang mempelopori psikologi menjadi disiplin ilmu yang berdiri
sendiri. Yang ditandai dengan berdirinya laboratorium psikologi pertama kali di
Leipzig tahun 1879. Dan dia beranggapan bahwa experiment memiliki arti yang
penting bagi psikologi.dan dengan teliti ia membuat rumusan syarat-syarat yang
harus dipenuhi oleh sebuah eksperimen.
3. Munculnya studi psikologi perkembangan modern
Studi sistematis tentang psikologi perkembangan
mengalami perkembangan yang signifikan pada abad ke-20. Penelitian-penelitian
yang dilakukan pada zaman ini lebih bersifat deskriptif dan lebih
dititikberatkan pada ciri-ciri khas yang terdapat secara umum,
golongan-golongan umur serta masa-masa perkembangan tertentu.
Perubahan dalam studi psikologi perkembangan
terjadi setelah J.B. Watson memperkenalkan teori Behaviorisme. Dalam teorinya
Watson menggunakan prinsip-prinsip “calssicalconditioning” untuk
memperjelas perkembangan suatu tingkah laku. Menurutnya prinsip-prinsip conditioning dan
prinsip-prinsip belajar dapat diterapkan pada semua perkembangan psikologis.
Karya Watson ini memancing perkembangan teori-teori psikologi yang
bertentangan.
Dalam kurun waktu yang sama pengaruh Sigmund Freud
dalam psikologi perkembangan juga mulai terlihat. Dalam kunjungannya ke Amerika
atas undangan G.Stanley Hall pada tahun 1909 dalam ceramahnya menyampaikan
penjelasan tentang teori psikoanalisisnya, yang menekankan pengalaman masa bayi
dan anak-anak mempunyai pengaruh yang menentukan terhadap perkembangan
kepribadian dan tingkah laku orang dewasa. Semula teori ini banyak ditentang
oleh psikolog perkembangan. Baru sekitar tahun 1930-an dilakukan usaha yang
sungguh-sungguh dalam bentuk penelitian tentang aspek perkembangan dari
teorinya.
Namun pengaruh dari Watson, Freud dan tokoh yang
lain dalam disiplin ilmu ini besar, namun sampai tahun 1930-an
penelitian-penelitian psikologi perkembangan masih bersifat deskriptif. Dan ini
yang menjadi kurang nya publikasi mengenai psikologi perkembangan ini, hingga
sekitar tahun 1939-1949. Namun ternyata kemunduran ini tidak berlangsung lama
karena pada tahun 1950-an psikologi perkembangan memasuki periode baru dalam
tahap pertumbuhan dan perkembangannya. Dan ini berlangsung hingga saat ini.
Setidaknya ada tiga factor yang mendorong
diaktifkannya kembali bidang studi psikologi perkembangan ini.
Pertama , terjadinya
perubahan orientasi dalam riset-riset psikologi perekembangan hingga menjadi
bersifat eksperimental. Teknik yang digunakan terbukti sangat efektif, yakni
pengukuran dan pengotrolan dalam eksperimen. Perubahan juga terjadi dalam focus
penelitian dalam masalah yang lebih spesifik, seperti proses-proses persepsi,
problem solving, attention dan sebagainya. Dan kadang-kadang mempunyai cara
pendekatan yang berbeda dengan alur berfikir psikologi umum.
Kedua, ditemukannya
kembali hasil-hasil karya Jean Piaget, seorang psikolog dari Swiss yang secara
terus –menerus aktif melakukan penelitian mengenai perkembangan
kognisi pada anak-anak dari bayi hingga remaja. Hingga ia mampu menyusun
teori yang komprehensif tentang perkembangan kognisi. Ia menentang pendapat
kaum behavioris yang menganggap perkembangan individu sepenuhnya dipengaruhi
oleh factor lingkungan. Dan menentang pendapat ekstrem lainnya yang berpendapat
bahwa perkembangan dipengaruhi sepenuhnya oleh pengaruh genetic atau keturunan.
Sebaliknya piaget berpendapat, perkembangan terjadi sebagai hasil interaksi
yang antara individu di satu pihak dan tuntutan lingkungan di pihak lain. Oleh
sebab itu individu selalu beradaptasi untuk mempertahankan keseimbangan
antara dirinya dan lingkungan. Karena karyanya diterbitkan dalam bahasa
Perancis yang sulit dan rumit, maka baru pada tahun 1950-an bisa diterjemehkan
dalam bahasa inggris. Padahal dia sudah menulis nya sejak tahun 1920-an. Sejak
inilah pengaruh buku-bukunya mendominasi psikologi perkembangan.
Ketiga, adanya
minat baru terhadap asal mula tingkah laku (origin of behavior) yang
ditandai dengan meningkatnya riset terhadap terhadap bayi-bayi. Dan peningkatan
ini didorong pula dengan alat-alat yang semakin modern pula.
Hingga permulaan tahun 1950-an studi mengenai
tingkah laku serta kondisi-kondisi psikis dan fungsionalitas kepribadian
individu lebih terfokus pada anak, sehingga lebih dikenal dengan psikologi
anak. Ciri-ciri khas psikologi anak pada waktu itu adalah:
1) Orientasi lapangan
psikologi anak menjadi terlalu klinis-patologis, yakni banyak berhubungan
dengan kelainan tingkah laku anak dan usaha untuk mempengaruhinya ke arah
perbaikan tingkah laku yang diharapkan.
2) Psikologi
anak banyak menaruh perhatian terhadap aspek-aspek praktis pada tingkah laku
serta perkembangan kepribadian pada umumnya dengan masalah-masalah yang timbul.
3) Usaha
mengenal dan memberi ciri-ciri kepribadian banyak dilakukan.
Pada tahun 1960-an, “psikologi anak” yang hanya
mencakup seluk-beluk anak mulai digantikan oleh “psikologi perkembangan” yang
mempunyai bidang cakupan yang lebih luas. Ciri-ciri psikologi perkembangan yang
membedakannya dengan psikologi anak adalah :
1) Lapangannya
lebih luas, yaitu meliputi pertumbuhan dan perkembangan sejak manusia baru
berbentuk melalui konsepsi sampai tua dan meninggal dunia.
2) Psikologi
perkembangan mempelajari perubahan tingkah laku dari lahir sampai mati dalam
hubungannya dengan disiplin-disiplin ilmu lainnya, seperti ilmu kedokteran dan
biologi, ilmu pendidikan dan ilmu-ilmu social lainnya.
3) Objek
psikologi perkembangan adalah proses-proses perkembangan yang meliputi
aspek-aspek fisik, psikis dan social, sehingga orientasinya adalah psikofisik
dan biososial (Gunarsa,1990)
Membanjirnya penyelidikan oleh para ahli
eksperimental terbukti Dalam Experimental Child Psychology dan Advances
in childnDevelopment and Behavior, terdapat pengaruh besar dari ahli
psikologi eksperimental terhadap psikologi anak. Disebabkan karena
ketidakpuasan terhadap cara kerja, metode dan pendekatan yang dipakai untuk
mengadakan penelitian terhadap anak, karena dianggap kurang memenuhi syarat
dilihat dari sudut metodologi penelitian dan eksperimen.
Selain itu meningkat pula perhatian dan minat para
ahli eksperimental terhadap aspek-aspek psikis, seperti persepsi kognisi, dan
anak dipandang sebagai objek untuk penelitian ditinjau dari segi perkembangan
dan proses-prosesnya.
B.F Skiner (1904-1990) seorang psikolog Amerika
beraliran behavioristik menekankan bahwa hal yang patut menjadi minat dan
perhatian para ahli psikolog adalah perilaku yang terlihat. Ia telah mepelajari
proses belajar dan hubungannya dengan tingkah laku sjak 1920-an dan
memperkenalkan konsep operant conditioning. Konsep ini
terbukti mampu dilaksanakan untuk mengubah perilaku sesuai dengan yang
diinginkan, melalui rangsangan-rangsangan yang diatur secara tertentu. Dan ini
mengundang minat ahli yang lain untuk menemukan cara-cara yang bias digunakan
untuk mengubah perilaku yang terlihat.
Meluasnya pengertian tentang kognitif dan
perkembangan bahasa. Pada permulaan 1960-an banyak muncul tulisan mengenai
Piaget yang lebih mudah dipahami daripada tulisan Piaget sendiri. Ini menamabah
semakin meluasnya perhatian dan pembahasan mengenai kognitif. Hingga
dihubungkan dengan proses-proses perkembangan melalui hasil penelitian dan
percobaan yang diamalkan dalam mempengaruhi perkembangan dan pendidikan anak.
Dan sampai terjadi proses-proses pemilahan penggunaan bahasa yang lebih
komunikatif kepada anak.
Dan pemilihan penggunaan bahasa ini lebih
menjadi objek garapan psikologi perkembangan daripada psikologi umum. Dan
timbulnya masalah karena kesalahan pemakaian bahasa lebih banyak ditemukan
menyebabkan minat para ahli untuk menggali perkembangan dari sudut bahasa.
Sejalan semakin meluasnya penelitian dan percobaan
mengenai fungsi kognitif, maka perhatian dan penelitian terhadap bayi semakin
meluas pula. Karena asal usul tingkah laku awal manusia bias terlihat pada
bayi.
Penggunaan bayi sebagai objek penelitian sudah lama
dimulai sejak timbulnya teori S.R (stimulus: Respone) tapi seiring perkembangan
zaman semakin ditemukan alat-alat yang lebih mendukung dan modern pula.
Sehingga memudahkan penelitian pada bayi.
Teori social belajar (social learning
theory) sebuah teori perluasan dari behaviorisme yang menekankan
pentingnya perilaku, lingkungan dan kognisi sebagai kunci dalam perkembangan.
Teori ini timbul ketika O.H Mowner, Robert R. Sears, Neal Miller, John Dollar,
dan rekan lainnya berusaha menemukan teori perkembangan anak dengan dasar
teori S.R dan Psikonalisa.
Dan Alfred L. Baldawin (1967) menyebutkan cara
pendekatan yang mereka lakukan dinamakan Teori Sosial Belajar. Dan kemudian
tokoh lain seperti Gewitz, Bandura, dan Walters lebih giat meneliti prilaku
tertentu seperti agresivitas. Yang sebelumnya dipelajari dengan sitem dan
metode yang non-eksperimental.
Psikologi perkembangan akhirnya lebih dikenal
karena membuka kesempatan lebih luas untuk melakukan penelitian dan percobaan
terhadap anak dengan perubahan-perubahan tingkahlakunya. Karena cakupannya
lebih luas, maka ia menggantikan posisi psikologi anak. Ini terbukti pada tahun
1957 Annual Review of Psycology yang biasa memakai judul “
Psikologi Anak” mulai menggantinya dengan “Psikologi Perkembangan.”
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pada Masa Pertengahan dan
Akhir Masa Anak-anak, terjadi pada usia
6
sampai 12 tahun, yang mana pada masa tersebut keadaan Fisik dan psikis pada anak juga akan berubah. Perubahan tersebut meliputi :
a.
Perkembangan fisik, meliputi : Keadaan berat dan Tinggi badan, dan perkembangan Motorik.
b.
Perkembangan kognitif, meliputi : Perkembangan Kognitif Menurut Teori Piaget, Perkembangan Memori, Perkembangan pemikiran kritis, perkembangan intelegensi, perkembnagan kecerdasaan emosional, perkembangan kecerdasaan Spiritual, perkembangan kreatifitas, perkembnagan bahasa.
c.
Perkembangan psikososial, meliputi : Perkembangan pemahaman diri, perkembangan hubungan dengan Teman Sebaya, dan pembentukan kelompok.
Saran
Demikianlah makalah Psikologi Perkembangan yang
kami sajikan, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. kritik dan saran tetap kami harapkan demi kesempurnaan makalah.
DAFTAR PUSTAKA
Desmita,
2001. Psikologi Perkembangan.
Bandung: PT.Remaja Rosdakarya
Azhari,2013.
Konsep dasar Psikologi Perkembangan. https://muhammadhakimazhari.blogspot.com/2013/05/konsep-dasar-psikologi-perkembangan.html
