Tingkatan kaum muslimin dalam mengamalkan alquran | Psikologi Umum




 Oleh :
Nusa Chandra                  1186000044

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2018
DAFTAR ISI

BAB I.  PENDAHULUAN
1.1               Latar Belakang
1.2              Tujuan Penulisan
1.3              Pembatasan Masalah
1.4              Perumusan Masalah
1.5              Judul Makalah

BAB II  PEMBAHASAN
2.1   Pengertian dzalim secara bahasa dan kategori zalim
2.2  Bentuk - Bentuk Perilaku Dzolim
2.3  Dzolim Dalam Fenomena Masyarakat

BAB III PENUTUP
3.1   Kesimpulan
3.2   Saran

DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN
1.1            Latar Belakang
            Dalam kehidupan sehari-hari antar umat manusia memiliki rasa kesolidaritasan yang amat tinggi. Suatu hubungan yang sangat erat. Namun rasa solidaritas tersebut terkadang di salah artikan sehingga timbul suatu perbuatan yang sangat menyimpang dalam agama islam.
            Salah satu perbuatan tersebut adalah dzalim atau aniaya. Dzalim dalam ajaran islam harus di hindari setiap muslim karena perbuatan dzalim dapat merugikan pelakunya dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.
            Selain itu Allah SWT juga membenci orang-orang yang melakukan kedzaliman. Untuk itu maka setiap orang muslim harus dapat memahami seluk beluk tentang dzalim
1.2           Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini  adalah :
1.       Menjelaskan tentang pengertian dzalim. Kategori dzalim, ancaman bagi yang melakukan dzalim
2.      Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang perbuatan dzalim
3.      Agar pembaca dan pendengar dapat memhami dan menghindari sifat dzalim.
4.      Untuk menambah pengetahuan tentang penggolongan orang mukmin
5.      Untuk memenuhi  salah  satu  tugas  dari  mata  kuliah  Psikologi Umum
6.      Sebagai kegiatan diskusi mahasiswa UIN Bandung.

1.3           Pembatasan Masalah
            Pada bab ini penulis hanya akan membahas pengertian dzalim, kategori dzalim, ancaman bagi yang melakukan dzalim, pengertian dzalim menurut Al-Quran dan Al-Hadits.

1.4           Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas  perumusan masalah makalah ini yaitu :
1.       Apa pengertian dzalim
2.      Pengertian dzalim menurut al-Quran dan al-Hadits
3.      Ancaman bagi yang melakukan dzalim
4.      Kategori yang termasuk perbuatan dzalim
1.5             Judul Makalah
Makalah ini penulis beri judul “Tiga Tingkatan Kaum Muslim Dalam Mengamalkan Al-Qur’ansesuai tugas yang diterima penulis.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1           Pengertian Dzalim Secara Bahasa
Perkataan zalim berasal dari kata zulm yang mempunyai beberapa pengertian, diantaranya ia berarti meletakkan sesuatu tidak kena pada tempatnya, menghampiri kemurkaan, penindasan dan mempercepatkan sesuatu sebelum tiba masanya. Perkataan zulm dari segi bahasa mengandung empat pengertian apabila dihubungkan dengan para nabi dan rasul yaitu orang yang dibuktikan maksum perkataan-perkataan yang tidak membawa maksud dosa dan salah adalah lebih wajar. Jika diambil pengertian menghampiri kemurkaan Tuhan, ini jelas menunjukkan tuhan memberi tahu adam seandainya beliau menghampiri pohon itu, dia hanya akan mendekatkan dirinya dalam kesusahan. Dalam konteks ini, perkataan itu juga dapat digunakan dengan maksud mempercepatkan sesuatu sebelum tiba masanya. Dalam hal ini walaupun Adam sudah ditetapkan oleh Tuhan akhirnya akan turun ke bumi, tetapi seandainya dia mendekati pohon khuldi, dia akan diturunkan ke bumi lebih cepat.[1] 
       Selain itu juga pengertian zalim yang berasal dari bahasa Arab, dengan huruf “dho la ma” (ظ ل م ) yang bermaksud gelap. Di dalam al-Qur’an menggunakan kata zhulm selain itu juga digunakan kata baghy, yang artinya juga sama dengan zalim yaitu melanggar haq orang lain. Namun demikian pengertian zalim lebih luas maknanya ketimbang baghyu, tergantung kalimat yang disandarkannya. Kezaliman itu memiliki berbagai bentuk di antaranya adalah syirik. Kalimat zalim bisa juga digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, kemusnahan harta benda, ketidak adilan dan banyak lagi pengertian yang dapat diambil dari sifat zalim tersebut, yang mana pada dasarnya sifat ini merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat
bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan.[2]
       Makna kata zalim adalah: “wadl’u syai-a fi ghairi mahallihi” artinya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.[3]
       Di dalam al-Qur’an untuk menyebut orang seperti ini selain “zhulm” juga digunakan kata “baghy” yang maknanya juga sama dengan zalim yaitu melanggar hak orang lain. Namun demikian pengertian zalim lebih luas maknanya daripada “baghy” kezaliman itu memiliki beberapa bentuk diantaranya adalah syirik. Sebagaiman dijelaskan dalam QS. Lukman (31): 13
Hasil gambar untuk qs luqman 13
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.[4]
       Berikut ini kata-kata dalam al-Qur’an tentang kata zalim.5
Dianiaya
15
ﻳﻆﻞﻣﻮﻦ
Kezaliman
  7
ﻆﻞﻢ
Kezaliman
  8
ﻆﻝﻣﺎ
Kezaliman
  2
ﻆﻞﻣﻪ
Kezaliman
  3
ﻆﻞﻣﻬﻡ
Menzalimi
  5
ﻆﺎﻞﻢ
Menzalimi
  4
ﻆﺎﻞﻣﺔ
Menzalimi
33
ﻆﺎﻞﻣﻮﻦ
Menzalimi
  2
ﻆﺎﻞﻣﻴﻦ
Menzalimi
91
ﻆﺎﻞﻣﻴﻦ
Lebih aniaya
16
ﺃﻆﻞﻢ
Kezaliman
  1
ﻆﻞﻮﻢ
Kezaliman
  1
ﻆﻞﻮﻤﺎ
Menganiaya
  5
ﻆﻼﻢ
Secara zalim
  1
ﻤﻆﻞﻮﻤﺎ
Gelap
  1
ﺃﻆﻞﻢ
Gelap gulita
  1
ﻣﻆﻞﻤﺎ
Kegelapan
  1
ﻣﻆﻞﻤﻮﻦ
Kegelapan-kegelapan
23
ﻆﻞﻣﺎﺖ
Jumlah
315

       Namun qur’an juga menyebut beberapa kata yang semakna dengan kata zhalim, yaitu hadhama dan janafa. Kata hadhama hanya disebut satu kali dalam qur’an yang ternyata juga dirangkai dengan kata zhalim, yaitu dalam Q.S. Thaha(20):112
Hasil gambar untuk qs Thaha 112
Dan Barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam Keadaan beriman, Maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.[5]
       Terlihat dalam terjemahan di atas bahwa antara kata zhalim yang diterjemahkan dengan “tidak adil” hampir sama dengan kata hadhama yang diartikan dengan pengurangan hak. Dengan demikian, keadilan adalah menyangkut masalah hak seseorang apakah terpenuhi haknya atau tidak.[6]
Ketidakadilan juga disebut dengan menggunakan kata jenafa, ayat yang menjelaskan hal ini yaitu Q.S al-Baqarah(2):182
Hasil gambar untuk qs Al Baqarah 182
(akan tetapi) Barangsiapa khawatir terhadap orang yang Berwasiat itu, Berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, Maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[7]
       Ayat tersebut berkaitan dengan masalah wasiat. Dalam ayat tersebut kata janafa diterjemahkan dengan berat sebelah. Itu artinya bahwa keadilan yang dituntut dalam ayat ini khususnya soal berwasiat adalah tidak berat sebelah.[8]
2.2          Bentuk – Bentuk Perilaku Dzolim
      Rasulullah SAW bersabda : Zalim ada tiga jenis : Zalim yang Allah tidak akan ampunkan ; Zalim yang Allah akan ampunkan ; Zalim yang Allah tidak akan tinggalkan. Adapun zalim yang Allah tidak akan ampunkan adalah syirik. Allah berfirman : Sesungguhnya syirik adalah zalim yang amat besar (Luqman : 13) ; Adapun zalim yang Allah akan ampunkan ialah kezaliman manusia terhadap dirinya sendiri dengan melakukan dosa-dosa antara dia dengan Tuhannya ; Adapun zalim yang Allah tidak akan meninggalkannya adalah zalim insan kepada sesama insan sehingga mereka diadili kelak (di akhirat) – ( HR Al-Taualisiy dan Abu Na’im dari Anas Bin Malik – Menurut Syeikh Nasiruddin Albaniy – Hadis Hasan - Sahih Al-Jaami’ – No 3961) [9]  
       Berdasarkan hadis sahih di atas bahawa zalim yang dilakukan oleh manusia ada tiga jenis. Ada zalim yang Allah SWT enggan mengampuninya iaitu dosa syirik. Adapun zalim yang Allah bersedia mengampuninya ialah perbuatan dosa-dosa besar kepada Allah selain syirik. Kedua-dua jenis zalim ini termaktub di dalam firman Allah : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. An-Nisa’/ 4 : 48:
Dengan melaksanakan maksiat, kita telah menjerumuskan diri kepada jurang kezaliman. Kita sendiri sedang menempah kesusahan di dunia dan akhirat. Zalim membawa keburukan bukan saja kepada orang yang melakukannya, tetapi orang yang merelekan. Menurut Islam, orang yang tidak berbuat zalim juga turut mendapat seksaan jika mereka reda dan membiarkan kezaliman itu berleluasa, wajib bagi orang yang melihat kezaliman dan mempunyai keupayaan untuk mencegahnya agar menghentikan kezaliman tersebut. Islam juga melarang kita mempunyai kecenderungan hati dan kebergantungan kepada orang zalim.[10]
       Walaupun seseorang melakukan kezaliman terhadap orang lain, dia sebenarnya telah melakukan kezaliman terhadap dirinya sendiri. Kemungkinan orang yang dizalimi lemah, miskin, jahil dan tidak berdaya untuk membalas, tetapi Allah pasti membalas kezaliman yang dilakukan. Sekalipun orang Islam menzalimi orang bukan Islam, Allah tetap membela orang yang dizalimi itu. Perbuatan zalim tidak selalu identik dengan menyakiti orang lain. Bisa saja seseorang dikatakan telah berbuat zalim, karena menzalimi diri sendiri. Melakukan berbagai tindak kejahatan, perbuatan haram, dan jauh dari ketaatan kepada Allah, semua perbuatan ini termasuk perbuatan zalim terhadap diri sendiri.[11] Dan diantara perbuatan zalim terhadap diri sendiri adalah:


1.       Syirik terhadap Allah
2.      Tidak mensyukuri nikmat allah
3.      Tidak menafkahkan sebagian harta ke jalan Allah
4.      Meninggalkan zikrullah.[12]

Kezaliman termasuk penyakit hati. Adapun keadilan merupakan tanda kesehatannya. Imam Ahmad Ibn Hanbal berkata “jika hati sehat, engkau tidak perlu takut pada siapapun”. Maksudnya, rasa takut pada ciptaan Allah menandakan adanya penyakit dalam hati. Misal, syirik dan dosa.[13]

Antara bentuk kezaliman ialah memukul dan menyiksa manusia
Al-Imam Ahmad, al-Bukhari dalam al-Tarikh al-Kabir dan Ibn Abi Asim
meriwayatkan dari Khalid ibn al-Walid berkata saya mendengar Rasullullah saw bersabda
: "Manusia yang paling berat diazab pada Hari Qiyamat ialah manusia yang
menyiksa manusia ketika di dunia"

Zalimnya seseorang terhadap orang lain tidak terbatas pada beberapa perilaku saja. Setiap perilaku yang mengganggu kepentingan orang lain atau lalai dalam memberikan hak-hak mereka, maka perilaku itu disebut zalim, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Berikut beberapa di antaranya.Islam sangat mencegah terjadinya kezaliman itu dengan memberikan balasan yang sangat berat kepada para pelakunya.
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa melihat ke dalam rumah satu kaum tanpa izin mereka, maka dihalalkan bagi mereka untuk mencongkel matanya.” (HR: Bukhari).
Kemudian Nabi bersabda, “Barangsiapa yang mendengarkan pembicaraan suatu kaum, padahal mereka tidak menyukainya, maka Allah akan menusuk telinganya dengan peluru yang meleleh pada hari kiamat.” (HR: Bukhari).
Riwayat yang lain juga menyebutkan bahwa, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menzalimi sejengkal tanah, maka akan dikalungkan kepadanya tujuh bumi.” (HR. Bukhari).
Jadi, kezaliman bukan perkara ringan. Perbuatan itu akan sangat memberatkan pelakunya baik dan di akhirat. Jika pelaku zalim adalah seorang ahli ibadah, maka ia akan bangkrut di hari kiamat karena harus merelakan seluruh pahalanya untuk orang yang dizalimi. Kemudian dosa orang yang dizalimi dibebankan kepada sang pelaku kezaliman.[14]
2.3            Dzalim Dalam Fenomena Masyarakat
Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim.[15]
Dalam surat ini Allah memerintahkan nabi Adan dan Hawa menahan diri mereka untuk mendekati “buah terlarang”. Namun, karena mereka tidak mampu menahan diri dari dorongan  nafsu setan, mereka dijatuhkan dari surga ke bumi.
Kisah nabi Adam dan Hawa menjelaskan, bahwa sejak awal sejarahnya telah diperintahkan untuk mampu menahan dan mengendalikan diri sendiri dari berbagai bentuk kezaliman.[16] Selain itu bentuk perbuatan zalim yang ada dalam al-Qur’an adalah: Q.S al-Qashash: 76, Q.S Shad : 22 dan 24

       “Sesungguhnya Karun adalah Termasuk kaum Musa [Karun adalah salah seorang anak paman Nabi Musa a.s. ], Maka ia Berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri". Q.S Al- Qashash : 76).[17]
Hasil gambar untuk Al qashash 15
ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena kedatangan) mereka. mereka berkata: "Janganlah kamu merasa takut; (Kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari Kami berbuat zalim kepada yang lain; Maka berilah keputusan antara Kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah Kami ke jalan yang lurus.[18]
Ayat tersebut menjelaskan tentang kisah orang-orang yang berperkara kepada Nabi Daud. Mereka itu menemui Daud. Daud pada waktu itu berada di tempat peribadatannya, Nabi Daud pun terperanjat karena beliau menyangka mereka itu datang untuk memperdayakannya. Nabi Daud menduga demikian, karena mereka datang dengan cara dan dalam waktu yang tak biasa. Pada saat itulah mereka meminta kepada Daud agar tidak takut. Selanjutnya mereka menjelaskan bahwa mereka mempunyai perkara yang harus diputuskan, dan meminta agar perkaranya diputuskan dengan keputusan yang adil, lagi tidak menyimpang dari kebenaran.[19]
Daud berkata: "Sesungguhnya Dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan Amat sedikitlah mereka ini". dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.[20]
Di dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan apa yang dikatakan oleh Nabi Daud. Ia mengatakan bahwa tergugat telah berbuat aniaya kepada penggugat, karena yang digugat itu telah mengambil kambing penggugat untuk dimiliki, sehingga kambingnya menjadi banyak. Di dalam ayat ini tidak dijelaskan lebih luas apakah Nabi Daud sesudah mendapat keterangan dari penggugat, meminta keterangan juga kepada tergugat. Juga tidak diterangkan apakah jawaban Nabi Daud itu didasarkan atas bukti-bukti yang memberi keyakinan. Menurut pengertian yang tampuk dalam ayat, Nabi Daud hanyalah memberi jawaban sesudah mendapat keterangan dari pihak penggugat saja. Padahal mungkin saja pihak penggugat mengemukakan keterangan yang berlawanan dengan kenyataan, atau karena cara mengemukakan kata diatur demikian rupa, hingga timbullah kesan seolah-olah si penggugat itu orang jujur. Seharusnya Nabi Daud tidak memberi jawaban secara tergesa-gesa, atau ditunda saja jawabannya hingga mendapat keyakinan yang sebenar-benarnya. Ditinjau dari cara mereka masuk menemui Daud dengan memanjat pagar, dan waktunya yang tidak tepat, dan persoalannya yang diajukan sebenarnya, mereka tidak bermaksud untuk meminta keputusan kepada Daud, tetapi mereka mempunyai maksud yang lain. Hanya karena kewaspadaan Daudlah maka rencana mereka itu tidak dapat mereka laksanakan. Di dalam sejarah dapat diketahui bahwa orang-orang Bani Israel sering kali berusaha untuk membunuh Nabinya misalnya mereka telah menuduh Ilyasa dan Zakaria. Patutlah dikatakan bahwa kedua orang itu (penggugat dan tergugat) sebenarnya ingin menganiaya Nabi Daud, hanya saja mereka tidak sampai melaksanakan niat jahatnya karena ketahuan terlebih dahulu. 
Kemudian Allah SWT menjelaskan jawaban Daud lebih terperinci. Daud mengatakan kepada orang yang berperkara itu bahwa sebagian besar orang yang mengadakan perserikatan, menganiaya anggotanya yang lain hal ini terjadi karena sifat hasad, dengki dan memperturutkan hawa nafsu sehingga hak anggota yang satu terambil oleh anggota yang lain. Terkecuali orang-orang yang dalam hatinya penuh dengan iman dan mencintai amal saleh yang terhindar dari perbuatan yang jahat itu. Di akhir ayat Allah SWT menjelaskan bahwa Nabi Daud merasa bahwa ia sedang mendapat cobaan dari Allah. Lalu ia meminta ampun kepada Allah atas kesalahan yang in sadari, seraya bersungkur sujud bertobat kepada-Nya karena merasakan kekurangan yang ada pada dirinya.
Kesalahan dan kekurangan yang la sadari dari peristiwa yang menimpa dirinya ialah ketergesaannya memberikan jawaban kepada orang yang berperkara, padahal ia belum memperoleh keyakinan yang sebenar-benarnya dan prasangkanya bahwa kedatangan orang yang ingin memperdayakannya itu adalah cobaan dari Allah, padahal apa yang ia duga itu tidak terjadi.[21]



BAB III
PENUTUP
3.1           Kesimpulan
Sesungguhnya dzalim berawal dari kebodohan terutama kebodohan hati serta ketidak pedulian hati dan juga dzalim sangat di benci allah karena dzalim merupakan perbuatan yang sangat merugikan banyak orang. Selain merugikan banyak orang juga merugikan diri sendiri.

3.2         Saran
-    Untuk para pembaca dan pendengar jauhilah sifat dzalim agar kita tidak terjerumus dalam perbuatan dosa
-    Berhati-hati dalam bertindak  dan iringi perbuatanmu dengan do’a.

Apabila dalam pembuatan makalah ini ada kata – kata yang kurang berkenan di hati pembaca dan pendengar, saya penulis mohon maaf. Segala hal yang baik itu datangnya dari Allah dan apabila ada yang buruk datangnya dari kita pribadi. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua amien.




*      Muhammad ‘Imammudin dkk 1990
*      Kuliah tauhid Jakarta : CV Kuning Mas
*      Hanaqi, Luqman. 2004. Untaian nasehat kiat jitu menjadi mukmin sejati. Bandung : Pustaka Ulumudding
*      Al-Halwahi dkk.2003. Membangun akhlak mulia dalam bingkai AlQuran dan Assunah seri rujukan dakwah para da’i. Yogyakarta; Al-manar.




[1]  Wan  Zailan Kamaruddin bin Wan Ali, Siapa Itu Nabi-Nabi, PTS.Millennia SDN.BHD, Selangor Darul Ehsan, 2004 hlm: 78
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Zalim diunduh tgl 1 Oktober 2018
[3] Quito R. Motinggo, Keajaiban Cinta: Membuat Hidup Lebih Berenergi dan Dinamis, Mizan, bandung, 2005, hlm: 83
[4] Departemen Agama R.I, Al-Hikmah, al-Quran dan Terjemah, Diponegoro, Bandung, 2010, hlm:  412
[5] Departemen Agama R.I, Al-Hikmah, al-Quran dan Terjemah, Diponegoro, Bandung, 2010, hlm: 
[6] Ali Nurdin, Quranic Society: Menelusuri Konsep Masyarakat Ideal Dalam Al-Qur’an,  Erlangga, Bandung, 2006, hlm: 260

[7] Departemen Agama R.I, Al-Hikmah, al-Quran dan Terjemah, Diponegoro, Bandung, 2010, hlm: 
[8] Ali Nurdin, Quranic Society: Menelusuri Konsep Masyarakat Ideal Dalam Al-Qur’an,  Erlangga, Bandung, 2006, hlm: 260

[9] http://www.facebook.com/notes/abdullah-yasin/zalim-ada-tiga-jenis-016/162669400456152
[10] http://islam2u.mywapblog.com/bentuk-penzaliman-terhadap-diri-sendiri.xhtml di unduh tgl 1 Oktober 2018
[11]  Muhammad Abduh, Kisah Orang-Orang Zalim, Republika, Jakarta Selatan, 2012, hlm: 41
[12]  http://islam2u.mywapblog.com/bentuk-penzaliman-terhadap-diri-sendiri.xhtml
[13] Ibnu Tamiyyah, Jangan Biarkan Penyakit Hati Bersemi, Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2006, hlm: 29
[15] Departemen Agama R.I, Al-Hikmah, al-Quran dan Terjemah  hlm: 6
[16]  Azyumardi Azra, Malam Seribu Bulan: Renungan-Renungan 30 hari Ramadhan, Erlangga, Jakarta Sealatan, 2005, hlm:5
[17] Departemen Agama R.I, Al-Hikmah, al-Quran dan Terjemah  hlm:
[18] Departemen Agama R.I, Al-Hikmah, al-Quran dan Terjemah  hlm:
[19] Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Shad 22
[20] Departemen Agama R.I, Al-Hikmah, al-Quran dan Terjemah  hlm:
[21] Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Shad 24


Related Posts: