Makalah Studi Kasus Perempuan Lesbian (Butchy) Di Yogyakarta
Nusa Chandra anak ketiga dari 3 bersaudara, lahir di Sukabumi, 07 Oktober 1997, SDN Cicantayan'11, SMP-IT Bani Yasin'14, SMK-IT Bani Yasin'17, UIN Sunan Gunung Djati Bandung'18. Sekarang sedang study di Fakultas Psikologi UIN SGD Bandung @ChandraKarya7
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salam Sejahtera, berhubung matakuliah Sosiologi Antropologi memberikan ujian take home examination membuat makalah yang berhubungan dengan matkul tersebut, saya mencoba membuat sebuah makalah dengan materi yang pernah disampaikan dosen saya sendiri salah satunya LGBT. kali ini saya akan mencoba membagikan karya tulis seputar kehidupan lesbian terimakasih kepada para pembaca untuk senantiasa mengunjungi situs saya, mudah-mudahan disetiap makalah yang saya berikan dapat lebih bermanfaat terutama dari segi penelitian dan besar harapan saya akan kritik dan saran yang membangun terimakasih.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Fenomena lesbian kini
semakin semarak di Indonesia, terutama di
kota-kota besar. Dengan didirikannya beberapa LSM dan organisasi yang
melindungi perempuan lesbian seperti Swara Srikandi di Jakarta, perempuan lesbian kini diakui keberadaannya dan
dilindungi oleh lembaga tersebut. Lembaga tersebut bukan hanya sekedar
menampung saja, tetapi para perempuan lesbian tersebut juga dilatih keterampilan agar dapat menjadi
perempuan yang berguna. Contoh yang di Yogyakarta, terdapat beberapa lembaga
yang menampung dan melindungi perempuan
lesbian seperti Lentera Sahaja, agar dapat mengembangkan potensi yang
dimilikinya selayaknya seperti perempuan normal lainnya. Semaraknya perempuan lesbian ini ditunjukkan
dengan adanya bukti bahwa perempuan lesbian berusaha untuk mengembangkan
diri dan mempertahankan hak-hak para lesbian itu sendiri, para lesbian telah
membentuk berbagai organisasi nasional, regional dan lokal. Banyaknya perempuan lesbi di Indonesia juga
dibuktikan dengan adanya website lesbian pertama, dibuat khususnya untuk
melayani kebutuhan perempuan lesbian Indonesia. Website ini didirikan oleh
empat relawan yang merasakan perlunya kebutuhan untuk menyatukan kaum lesbian
Indonesia sehingga nantinya para lesbian
bisa membentuk suatu komunitas (disiarkan
dalam Suara Perempuan, Senin 19 Agustus 2002) (19/08/2002).
Website di internet
ini merupakan bukti semaraknya lesbian di Indonesia, media internet menunjang
kebutuhan dan fasilitas bagi perempuan lesbian untuk berkomunikasi dan
berinteraksi karena internet merupakan
pilihan yang logis karena teknologi ini memungkinkan para perempuan lesbian
bertemu, berbicara, berkenalan, dan berdiskusi, tanpa harus membuka
identitas diri yang sebenarnya, apabila yang bersangkutan tidak bersedia (disiarkan dalam Suara Perempuan, Senin 19
Agustus 2002)(19/08/2002).
Di tengah-tengah
semaraknya lesbian di Indonesia, tentu saja banyak menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat, ada dampak
negatif yang ditimbulkannya sebab lesbian
sendiri masih merupakan fenomena yang mengandung kontroversi. Salah satu
bukti pro dari masyarakat adalah dengan
munculnya LSM serta situs khusus untuk kaum lesbian yang menangani
kehidupan para lesbian untuk diberikan keterampilan, adanya LSM dan situs di
internet ini merupakan salah satu bentuk
kepedulian masyarakat yang pro terhadap lesbian, karena biar
bagaimanapun menurut lesbian dirinya memiliki Hak Asasi Manusia. Sedangkan
masyarakat yang kontra dengan lesbian yaitu kehadiran perempuan lesbian dianggap
masih tabu dan sangat tidak sesuai dengan
ajaran agama yang berlaku di Indonesia.
Dalam Islam, Al-Quran
dan hadis melarang seks bebas dan homoseksualitas, apalagi dalam masyarakat Barat modern homoseksualitas telah
menjadi faktor yang menyebabkan munculnya satu penyakit yang sampai saat ini
belum ditemukan obatnya, AIDS. Keberadaan
perempuan lesbian mendapatkan diskriminasi dari masyarakat yang
menolaknya, dan tentu saja akan semakin bertambahnya konflik-konflik yang
muncul dari masyarakat. Lalu bagaimana perempuan lesbian menghadapi konflik-konflik yang terjadi di masyarakat?.
Lesbian merupakan
suatu bentuk dari penyimpangan perkembangan psikoseksual, dimana perempuan
tersebut hanya menyukai sesama jenisnya,
bukan terhadap lawan jenisnya (Sawitri, 2005). Apakah perempuan lesbian
sudah memikirkan masa depannya? Padahal jika dikaji lagi di Indonesia tidak ada pelegalan yang mengijinkan perempuan
menikah dengan perempuan, sedangkan salah
satu masa depan seorang perempuan selayaknya menikah dengan seorang
laki-laki.
Lalu
bagaimana sikap seorang lesbian menghadapi laki-laki jika ternyata pada kenyataannya lesbian membenci laki-laki? dan bagaimana jika suatu saat harus bertemu
dengan laki-laki dan harus menikah, reaksi apa yang timbul dari seorang
lesbian?.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana dan
seperti apa kasus lesbian di yogyakarta?
2.
Mewawancara
subyek yang terlibat dalam perilaku butch.
3.
Mencari tau sebab dan alasan terjadinya penyimpangan seksual
4.
Menjadikan subjek sebagai dasar alasan terjadinya penyimpangan
C. Tujuan dan kegunaan penelitian
1.
Untuk lebih
mendalami bagaimana perilaku menyimpang di yogyakarta.
2.
Untuk
mengetahui faktor-faktor apa saja yang memengaruhi gaya hidup
Masyarakat
di yogyakarta
3.
Memberikan
sumbangan dan pengetahuan baru bagi masyarakat
4.
Memberikan
kontribusi ilmu sosial terlebih sosiologi antropologi dan agama
D. Kerangka
Teori
1.
Gaya Hidup
Untuk melihat fenomena gaya hidup mahasiswa
lesbian muslim di kota Yogyakarta, penulis akan menggunakan teori gaya
hidup David Chaney. Gaya hidup menurut chaney adalah suatu ciri dari masyarakat
modern, atau biasa disebut modernitas. Maksudnya adalah siapa pun yang hidup dalam masyarakat modern akan menggunakan
gagasan tentang gaya hidup untuk menggambarkan tindakannya sendiri atau orang
lain.15 Gaya hidup adalah pola-pola
tindakan yang membedakan antar satu orang dengan orang lain. Dalam hal ini
interaksi sehari-hari kita
dapat menerapkan suatu gagasan mengenai gaya
hidup. Oleh karena
itu, dalam teori
Chaney menjelaskan bahwa gaya
hidup membantu memahami
yakni menjelaskan tetapi
bukan membenarkan apa yang orang lakukan, mengapa mereka melakukannya, dan
apakah yang mereka lakukan bermakna bagi dirinya maupun orang lain.
Gaya
hidup yang dipahami
Chaney sebagai proyek
refleksi dan penggunaan fasilitas
konsumen secara kreatif. Refleksi dalam artian bahwa perlu keterbukaan
yang tidak terbatas
terhadap makna-makna gaya
hidup dalam konteks apapun.
Cara khusus yang
dipilih seseorang untuk mengekspresikan diri,
tak di asingkan
merupakan bagian dari
usahanya mencari gaya hidup pribadinya. Gaya hidup merupakan cara
terpola dalam menginfestasikan
aspek-aspek tertentu kehidupan
sehari-hari dengan nilai sosial atau simbolik, tetapi ini juga
berarti bahwa gaya hidup merupakan cara bermain
dengan identitas, dengan
cara-cara tersebut gaya
hidup berkaitan dengan
kompetensi.
Dalam dunia modern, gaya hidup membantu
mendefinisikan sikap, nilai-nilai, dan menunjukkan kekayaan serta posisi
sosial, konsep gaya hidup ini
menawarkan bagaimana istilah
tersebut digunakan dalam
penjelasan sosiologi untuk menunjukkan pada bentuk masyarakat modern. Gaya
hidup megungkapkan bagaimana kita
harus mengklarifikasikannya, dalam
dunia modern. Konsep
gaya hidup ini
menawarkan bagaimana istilah
tersebut digunakan dalam penjelasan
sosiologi untuk menunjukkan
pada bentuk masyarakat modern.
Gaya hidup megungkapkan
bagaimana kita harus mengklasifikasikannya, bagaimana
istilah tersebut menjadi semakin benar dan apa sebenarnya gaya hidup itu.
mendefisinisikan gaya
hidup secara luas
adalah sebagai cara
hidup yang diidentifikasi oleh
bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas) apa yang mereka pikirkan
tentang diri mereka sendiri dan juga dunia sekitar. Sedangkan menurut Kotler,
gaya hidup adalah pola hidup seseorang didunia yang diekspresikan
melalui aktivitas, minat,
dan opininya. Gaya
hidup menggambarkan keseluruhan diri
seseorang dalam berinteraksi
dengan lingkungannya. Gaya hidup menggambarkan seluruh pola seseorang
dalam beraksi dan berinteraksi didunia. Secara umum dapat diartikan sebagai
suatu gaya hidup yang dikenali dengan bagaimana orang menghabiskan waktunya
(aktivitas), apa yang penting orang pertimbangkan pada lingkungan (minat), dan
apa yang orang pikirkan tentang diri sendiri dan dunia di sekitar (opini). Gaya
hidup adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam aktivitas, minat dan opini
khususnya yang berkaitan dengan citra diri untuk merefleksikan status
sosialnya.
Menurut Amstrong, gaya hidup seseorang
dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti
kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan atau
mempergunakan barang-barang dan jasa, termasuk didalamnya proses
pengambilan keputusan pada
penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.
lebih lanjut lagi Amstrong menyatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi gaya hidup seseorang ada 2 yaitu :
Faktor internal yaitu sikap, pengalaman dan pengamatan,
kepribadian, konsep diri, dan persepsi, dengan penjelasan sebagai berikut:
a. Sikap
Sikap berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan pikir yang
dipersiapkan untuk memberikan tanggapan
terhadap suatu objek
yang di organisasikan melalui pengalaman
dan mempengaruhi secara
langsung pada perilaku. Keadaan jiwa tersebut sangat dipengaruhi
oleh tradisi, kebiasaan, kebudayaan dan lingkungan sekitarnya.
b. Pengalaman dan pengamatan
Pengalaman dapat
mempengaruhi pengamatan sosial dalam tingkah laku, pengalaman dapat
diperoleh dari semua tindakan dimasa lalu dan dapat dipelajari, melalui belajar,
orang akan dapat memperoleh pengalaman. Hasil dari pengalaman sosial dapat
membentuk pandangan suatu objek.
c. Kepribadian
Kepribadian adalah konfigurasi
karakteristik individu dan
cara berperilaku yang menentukan perbedaan perilaku setiap orang.
d. Konsep diri
Faktor lain yang menentukan kepribadian individu adalah konsep
diri. Konsep diri sudah
menjadi pendekatan yang
dikenal luas untuk menggambarkan hubungan
antara konsep diri
konsumen image mereka.
Bagaimana individu memandang dirinya akan mempengaruhi minat
terhadap suatu objek. Konsep diri sebagai inti dari pola kepribadian akan
menentukan perilaku individu dalam menghadapi permasalahan hidupnya, karena
setiap konsep diri merupakan frame or
reference yang menjadi awal perilaku. Motif Perilaku individu muncul karena
adanya motif kebutuhan untuk merasa aman dan kebutuhan terhadap prestise
merupakan beberapa contoh tentang motif. Jika motif seseorang terhadap
kebutuhan akan prestise itu besar maka akan membentuk gaya hidup yang
cenderung mengarah kepada gaya hidup hedonisme.
f. Persepsi
Persepsi adalah proses
dimana seseorang memilih,
mengatur, dan menginterpretasikan
informasi untuk membentuk suatu gambar yang berarti mengenai dunia.
Adapun faktor eksternal, sebagai
berikut:
a. Kelompok referensi
Kelompok referensi adalah
kelompok yang memberikan
pengaruh langsung atau tidak
langsung terhadap sikap
dan perilaku seseorang. Kelompok yang memberikan pengaruh langsung adalah kelompok dimana individu tersebut
menjadi anggotanya dan saling berinteraksi,
sedangkan kelompok yang tidak
memberikan pengaruh langsung
adalah kelompok dimana individu
tidak menjadi anggota didalam kelompok tersebut. pengaruh- pengaruh tersebut
akan menghadapkan individu pada perilaku dan gaya hidup tertentu.
b. Keluarga
Keluarga memegang peranan
terbesar dan terlama
dalam proses pembentukan sikap
dan perilaku individu. Hal ini karena pola asuh orang tua akan membentuk
kebiasaan anak yang secara tidak langsung mempengaruhi pola hidupnya.
c. Kelas sosial
Kelas sosial adalah sekelompok yang relatif homogen dan bertahan
lama dalam sebuah masyarakat, yang tersusun dalam sebuah urutan jenjang, dan
para anggota dalam setiap jenjang itu memiliki nilai, minat, dan tingkah laku
yang sama. Ada dua unsur pokok dalam sistem sosial pembagian kelas dalam
masyarakat, yaitu kedudukan (status) dan peranan. Kedudukan sosial artinya
tempat seseorang dalam lingkungan pergaulan, prestise hak-haknya serta kewajibannya. Kedudukan sosial dapat
dicapai oleh seseorang dengan usaha yang sengaja maupun diperoleh karena
kelahiran. Peranan merupakan aspek
dinamis dari kedudukan.
Apabila individu melaksanakan
hak dan kewajibannya sesuai
dengan kedudukannya, maka ia menjalankan peranan.
d. Kebudayaan
Kebudayaan meliputi pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan
kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh individu sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan
terdiri dari segala yang dipelajari dari pola- pola perilaku
yang normatif, meliputi
ciri-ciri pola pikir,
merasakan dan bertindak.
Berdasarkan uraian di
atas dapat disimpulkan
bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi gaya hidup berasal dari dalam (internal)
dan dari luar (eksternal). Faktor
internal meliputi sikap,
pengalaman dan pengamatan, kepribadian, konsep
diri, motif, dan
persepsi. Adapun faktor
eksternal meliputi kelompok referensi, keluarga, kelas sosial, dan
kebudayaan.
2.
Iklan Gaya Hidup
Dalam
masyarakat modern, berbagai
perusahaan (korporasi), para politisi, individu-individu semuanya
terobsesi dengan citra.
Di dalam era globalisasi informasi seperti sekarang
ini berperan besar dalam membentuk budaya citra dan budaya cita rasa adalah
gempuran iklan yang menawarkan gay
visual yang kadang-kadang
mempesona dan memabukan.
Iklan mempresentasikan gaya hidup
dengan menanamkan secara
halus arti pentingnya citra diri untuk
tampil di muka publik. Iklan juga perlahan tapi pasti mempengaruhi pilihan cita
rasa yang seseorang buat.
3.
Public Relations dan Journalisme Gaya Hidup
Pemikiran mutakhir
dalam dunia profesi
sampai pada kesimpulan bahwa dalam budaya berbasis
selebriti (celebrity based culture),
para selebriti membantu dalam pembentukan identitas dari para konsumen
kontemporer. Dalam budaya konsumen,
identitas menjadi sandaran
“aksesori fashion”. Wajah
generasi baru yang
dikenal sekarang dianggap
terbentuk melalui identitas yang
diilhami selebriti, cara
mereka berselancar di
dunia maya (internet), cara
mereka gonta-ganti busana untuk jalan-jalan. Ini berarti bahwa selebriti dan
citra mereka digunakan untuk membantu konsumen dalam parade identitas.
4.
Gaya Hidup Mandiri
Kemandirian adalah mampu hidup tanpa
bergantung mutlak kepada sesuatu yang lain. Untuk itu diperlukan kemampuan
mengenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri, serta berstrategi dengan
kelebihan dan kekurangan tersebut untuk mencapai tujuan. Nalar adalah alat
untuk menyusun strategi. Bertanggung
jawab maksudnya melakukan
perubahan secara sadar
dan memahami bentuk setiap
resiko yang akan
terjadi serta siap
menanggung resiko dan dengan kedisiplinan akan membentuk gaya hidup yang
mandiri. Dengan gaya hidup mandiri, budaya konsumerisme tidak lagi memenjarakan
manusia. Manusia akan
bebas dan merdeka
untuk menentukan pilihannya secara bertanggung
jawab, serta menciptakan
inovasi-inovasi yang kreatif untuk menunjang kemandirian tersebut.
BAB II
TEORI DASAR
Penelitian
oleh Kinsey menemukan
bahwa sekitar 6 persen dari wanita di Amerika
adalah lesbian. Penelitian yang lebih baru menemukan bahwa antara 4-9 persen
dari wanita adalah lesbian, paling sedikit dalam suatu waktu dalam hidup lesbian. Ada perdebatan apa artinya menjadi
seorang lesbian. Beberapa, mengikuti pandangan yang dikatakan ‘inti’,
mengatakan bahwa orientasi seksual dan seksualitas individu adalah ciri inti
dari seorang manusia, seperti tinggi, ras atau jenis kelamin (Satumed.com, 26
Mei 2001). Homoseksual tidak secara spesifik
digambarkan dalam Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorders edisi III yang direvisi (DSM-III-R) maupun edisi IV (DSM-IV),
tetapi dimasukkan sebagai suatu gangguan penyesuaian atau suatu gangguan
kecemasan.
Pencetus
Homoseksual yaitu percakapan seksual dengan teman, atau lebih sering kontak
fisik, seperti mandi bersama, bercumbu, tidur bersama atau berpelukan (Kusuma, 1997). Ada dua tipe lesbian yang sering
kali dibedakan Jones dan Hesnard (dalam Beauvoir,
2003), yaitu perempuan maskulin yang berhasrat meniru laki- laki, yang biasa
disebut butch dan seorang feminin
yang takut terhadap laki-laki, yang biasa disebut femme.
Butch dianggap sebagai penindas wanita, simbol dari kepemimpinan pria.
Butch datang dari berbagai bentuk,
ukuran, dan pikiran yang bermacam-macam, tentu saja. Setiap orang mempunyai gaya dan ekspresinya sendiri. Menjadi
seorang butch bukan hanya karena mengalami kekurangan sifat kewanitaan. Kebanyakan
dari kaum butch memiliki
perbedaan tersendiri dalam energi maskulinitas
dari pria yang sebenarnya, kejantanan bukanlah hak lahir dan bukan juga
warisan. Identitas butch selalu diperjuangkan dengan susah
payah dan selalu ditantang oleh kaum heteroseksual, dan butch berkembang hanya
dengan sedikit bantuan dari tokoh panutan lesbian.
Femme adalah seseorang yang
memamerkan kewanitaannya yang sangat berlebihan dari sisi penampilan sebagai bentuk perayaan atas
feminitas (http://caprius.or.id/ss_column/susan_0.0.html).
Femme gemar menunjukkan
kekuatan, dominasi dan mistik dari sisi kewanitaannya, lesbian dapat terlihat
sangat feminin, atau bahkan tomboy.
Menurut teori pertukaran sosial (Blau, Burgress dan Huston, Kelley dan Thibaut
dalam Sears dkk, 1999) seseorang akan cenderung memilih teman yang dapat
memberikan ganjaran sebesar-besarnya. Ganjaran yang dimaksud disini adalah
segala hal yang diperoleh seseorang dalam
hubungan, seperti dicintai.
Remaja perempuan memilih untuk menjalin hubungan dengan
kekasihnya karena mendapat balasan atas cintanya. Namun, menurut teori ini,
ternyata dalam suatu hubungan yang intim
bisa menimbulkan konsekuensi negatif, banyak menimbulkan pertentangan, karena
ketidaksesuaian antara kedua belah pihak. Seorang remaja perempuan yang
memiliki hubungan intim dengan lawan jenisnya akan berakhir karena
terlalu banyak konflik yang muncul di dalam hubungan tersebut dan ketika hubungan itu berakhir menimbulkan rasa
kecewa dan trauma pada diri individu tersebut untuk berhubungan dengan lawan
jenisnya. Remaja tersebut akhirnya mencoba
untuk menjalin hubungan yang baru dengan teman dekatnya sesama jenis yang lebih bisa memahami dengan dirinya,
sehingga muncul hubungan sesama jenis yaitu lesbian.
Meningkatnya
konsentrasi androgen di dalam darah seorang perempuan, secara fisik perempuan
tersebut mengalami perubahan yaitu menjadi kurang feminin, rambut tumbuh pada
tubuh dan wajah, payudara menjadi lebih kecil serta klitoris membesar
(Llewellyn-Jones, 2005). Perubahan fisik ini
menyebabkan seorang perempuan tidak percaya diri untuk berhubungan
dengan lawan jenisnya karena secara fisik
perempuan tersebut lebih di dominasi hormon laki-laki dan kekurangan
hormon perempuan, sehingga takut diejek dan dikucilkan oleh lawan jenisnya.
Pada akhirnya individu
tersebut menekan dirinya sendiri untuk berperilaku seperti laki-laki dan
berteman dengan laki-laki saja. Hubungan yang
intensif dengan teman laki-laki membuat perempuan tersebut berperilaku
seperti laki- laki dan tentu saja membuat sifat seseorang itu berubah menjadi seperti laki-laki yang
sesungguhnya.
Menurut Jung (dalam
Hall dan Lindzey, manusia pada hakikatnya merupakan makhluk biseksual. Jung mengaitkan sisi feminin kepribadian pria
dan sisi maskulin kepribadian wanita dengan
arkhetipe- arkhetipe. Arkhetipe feminin pada pria disebut anima,
arkhetipe maskulin pada wanita disebut animus. Arkhetipe-arkhetipe ini, kendati
bisa ditentukan oleh kromosom-kromosom jenis dan kelenjar-kelenjar seks adalah
produk dari pengalaman-pengalaman ras pria
dengan wanita dan wanita dengan pria. Dengan kata lain, karena hidup bersama wanita selama berabad-abad, pria
telah menjadi feminin dan karena hidup
bersama pria, wanita telah menjadi maskulin.
Proses
terjadinya individu menjadi
lesbian adalah ketika individu yang tumbuh dalam lingkungan sosial banyak dipengaruhi oleh komunitas lesbian sehingga dapat memicu munculnya perilaku
lesbian. Akibat pengaruh lingkungan masyarakat, termasuk munculnya orang atau
kelompok penekan, adanya rasa tertarik kepada sesama jenis yang
muncul sejak masa kanak-kanak bisa mempengaruhi seseorang untuk menjadi lesbian
(Abrar dan Tamtiari, 2001).
Lingkungan sosial yang
banyak dipenuhi oleh kelompok penekan seperti kaum lesbian dapat mempengaruhi
seseorang untuk menjadi bagian dari kelompok tersebut yaitu lesbian. Seorang
individu bisa terpengaruh dengan kelompok
lesbian karena tidak adanya pertahanan diri dari individu dalam
menyikapi keadaan di lingkungan tempat
lesbian itu berkumpul. Apalagi jika tempat berkumpulnya perempuan lesbian itu merupakan tempat untuk
berinteraksi sosial dan melakukan hubungan erotisnya, secara otomatis
seseorang bisa terkena dampaknya yaitu menular dengan menjadi bagian dari
kelompok lesbian. Seorang remaja yang tidak mendapatkan perhatian dari teman
maupun dari keluarganya menyebabkan remaja itu merasa kekurangan dukungan psikis. Hal ini akan membuat
seseorang kurang kasih sayang dan kesepian karena tidak pernah ada kedekatan
psikis dari teman maupun orang tuanya, yang
pada akhirnya tanpa disadari akan berakibat pada gangguan psikis pada
individu tersebut (Abrar dan Tamtiari, 2001).
Remaja memerlukan
kasih sayang dan pengertian, memerlukan
seseorang untuk tempat mengeluh dan mengungkapkan isi hatinya, remaja
seharusnya dekat secara psikis dengan orang
tuanya. Jika orang tua tidak sanggup menjawab rasa ingin tahu remaja
mengenai sikap sosial, moral, dan terutama sikap seksualnya, maka orang tua itu
telah memicu emosional pada remaja tersebut
Pada akhirnya seorang
remaja mencari kebutuhan afiliasinya dengan temannya, hubungan yang intim
dengan teman lama kelamaan bisa menimbulkan rasa saling suka dan tertarik satu sama lain, hingga akhirnya terbentuk satu
perilaku homoseksual yaitu lesbian. Salah satu konflik eksternal yang dialami
lesbian yaitu ketika para perempuan lesbian termasuk komunitasnya tidak bisa
sepenuhnya diterima oleh masyarakat dimana lingkungan tersebut merupakan salah
satu tempat lesbian itu berinteraksi. Biasanya konflik itu muncul ketika
lesbian berada pada posisi minoritas di tengah-tengah masyarakat.
Kehadiran perempuan
lesbian di tengah- tengah masyarakat belum sepenuhnya bisa diterima. Acap kali sindiran, cacian, dan
perlakuan kurang mengenakkan dari masyarakat harus diterima. Tak hanya
dari orang lain, namun juga saudara serta orang tua sendiri. Lesbian sangat
sulit diterima. Padahal di dalam lubuk hatinya lesbian ingin dianggap ada,
diakui serta tidak mendapat perlakuan berbeda (Sumber : Suara Merdeka, Jumat 03
Desember 2004 oleh Kusnindya). Konflik sering terjadi dalam hubungan yang erat
(Peterson, dalam Sears, dkk,1999).
Jika seorang lesbian
memiliki hubungan yang intim dengan pasangannya, suatu waktu akan terlihat adanya ketidaksesuaian antara keduanya. Konflik
akan semakin mudah timbul bila interdependensi makin meningkat. Bila
interaksi menjadi semakin kerap dan melibatkan berbagai kegiatan dan hal-hal
yang semakin luas, peluang untuk munculnya ketidaksesuaian akan semakin besar
(Sears, dkk, 1999).
Konflik internal yang
muncul yaitu dari dalam diri lesbian ketika seorang perempuan lesbian harus
memilih untuk tetap menjadi lesbian atau berhenti menjadi lesbian, hal ini
disebabkan karena seorang lesbian sudah merasa tidak sesuai dan sering timbul
konflik dengan pasangannya.
Seorang perempuan yang
normal sudah pasti akan memilih untuk melanjutkan kehidupannya dengan mencoba
untuk berpikir mengenai masa depannya yaitu menikah dengan laki-laki namun bagi
perempuan lesbian hal ini merupakan pilihan yang sangat sulit.
Metode
Penelitian
Metode
yang digunakan untuk
penelitian ini adalah kualitatif, dimana peneliti adalah instrumen utama
penelitian, sehingga dapat melakukan penyesuaian sejalan dengan kenyataan-kenyataan
yang terjadi di lapangan. Desain penelitian
kualitatif bersifat alamiah, dalam arti peneliti tidak berusaha untuk memanipulasi setting penelitian, melainkan melakukan studi terhadap satu
fenomena dalam situasi dimana fenomena tersebut ada (Poerwandari, 1998).
Metode kualitatif
dipilih untuk penelitian ini dengan beberapa pertimbangan, antara lain bahwa
metode yang digunakan untuk meneliti subyek
akan mempengaruhi cara peneliti memandang individu. Kehidupan perempuan lesbian merupakan suatu hal yang terlalu
subyektif untuk ditampilkan dalam bentuk angka-angka statistik dan terlalu
pribadi untuk ditampilkan dalam bentuk angket.
Menurut Moleong (2001)
proses analisis dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari
berbagai sumber, yaitu data dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam
catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya. Setelah data dibaca, dipelajari dan ditelaah, maka
langkah selanjutnya adalah mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan
mengadakan abstraksi.
Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses, dan pernyataan-pernyataan di
dalamnya perlu dijaga sehingga tetap berada
di dalamnya, kemudian disusun kedalam satuan-satuan. Satuan-satuan ini kemudian
dikategorisasikan sambil membuat coding,
yang kemudian dicari kaitannya antara keduanya. Tahapa akhir dari analisis data ini adalah mengadakan pemeriksaan
keabsahan data yang kemudian dilanjutkan dengan tahap penafsiran data
menuju pada kesimpulan hasil penelitian.
BAB III
HASIL PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan kurang lebih enam bulan terhitung dari juli
2005 sampai bulan Desember
2005, dengan melibatkan kaum lesbian sebagai subyek penelitian. Proses pengambilan data dengan menggunakan metode observasi dan wawancara yang dilakukan
seminggu empat kali pada setiap subyek dan dilakukan di lokasi-lokasi tempat
biasa para lesbian melakukan obrolan atau sedang berinteraksi dengan masyarakat
lain.
Peneliti
melakukan wawancara tidak hanya di lokasi-lokasi dimana subyek melakukan obrolan, tetapi wawancara juga dilakukan
di rumah subyek, serta agar lebih leluasa
mengungkap cerita subyek dengan mengeluarkan ekspresi emosinya. Peneliti menggunakan
tape recorder. Peneliti dalam proses
mencari subyek telah mengadakan observasi dan wawancara terhadap empat orang
lesbian jenis butchy, ternyata peneliti sudah cukup mendapatkan data yang
valid ketika sampai subyek keempat. Significant
Person terdiri dari sahabat dan ibu yang sehari-hari dekat dengan subyek
dan diharapkan dapat memberikan masukan informasi yang tidak sempat tergali
oleh peneliti dari subyek penelitian.
Subyek
Pertama
Bebe menjadi butchy semenjak subyek berkenalan dengan seorang
perempuan yang waktu itu menjadi teman kencannya. Subyek mengaku berkenalan
atas rekomendasi Oni sahabatnya, yang menganggap subyek bisa menjadi butchy karena kondisi fisiknya yang
mendukung. Awalnya subyek mencoba untuk melakukan oral seks dengan perempuan
yang pernah dikencaninya tersebut yaitu di bagian kesensitifan wanita.
Perlakuan
subyek terhadap perempuan tersebut direspon dengan baik,
sehingga subyek merasakan kepuasan dengan
pengalaman seksualnya tersebut. Pertama kali subyek melakukan oral seks
itu dengan mulut dan lidahnya dan akhirnya
sampai saat ini hal tersebut sudah biasa dilakukannya dengan
pasangannya. Subyek pertama kali diajarkan oral seks dengan Oni, hal ini
disebabkan karena keingintahuan Bebe mengenai orientasi seksual bagi butchy. Kini sudah sebelas tahun Bebe
menjadi lesbian, dan ia mengaku menikmati
kehidupannya sebagai seorang lesbian. Bebe optimis bahwa ia akan tetap dapat
menjalani kehidupannya tanpa harus merubah statusnya sebagai lesbian (butchy).
Subyek
Kedua
Subyek merasa menjadi butchy dimulai dari perkenalannya dengan
teman SMU-nya seorang perempuan yang ternyata menyukai subyek karena
kelakuannya yang seperti laki- laki. Hubungan Deri dengan teman sekolahnya
berlanjut menjadi sahabat dekat. Hubungan
subyek dengan sahabatnya tersebut sudah seperti sepasang kekasih, malah
menurut Deri sempat membuat teman-teman yang
lain curiga, tapi hal itu tidak ditanggapi oleh Deri.
Suatu saat Deri pernah
mencoba melakukan petting yang dilakukan
oleh Deri terhadap sahabatnya tersebut. Subyek suka mencumbui sahabatnya
tersebut atas dasar suka sama suka. Deri
mengakui kelakuannya pada saat itu sekedar ingin coba-coba dan karena rasa
sayangnya terhadap temannya. Namun pada akhirnya Deri ditinggal pergi oleh
sahabatnya tersebut, sebab keinginan Deri sudah terlalu jauh dalam berhubungan
intim.
Sekarang
sudah enam belas tahun
subyek mengakui bahwa ia seorang lesbian.
Subyek merasa lebih yakin dengan kehidupannya yang sekarang sebagai
seorang butchy. Deri mengaku suka
berganti-ganti pacar sebab subyek mencari sosok pasangan yang benar-benar bisa memahami dirinya yang
berwatak keras.
Subyek
Ketiga
Subyek
menjadi butchy semenjak kejadian subyek dipaksa oleh mantan kekasihnya, subyek mengaku putus dan tidak pernah
mau lagi berpacaran. Subyek hanya suka berteman dengan laki-laki namun tidak
pernah ada yang mau dipacarinya lagi, sampai suatu hari subyek pernah merasa
diperhatikan dengan seorang perempuan dan perempuan tersebut adalah adik dari
sahabatnya subyek. Subyek merasa dekat dengan adik sahabatnya yang bernama Gn,
kedekatannya ini menimbulkan suatu hubungan yang istimewa, subyek suka
mengelus-ngelus kepala Gn dan suka mencium kening Gn, hingga akhirnya subyek merasa
terbiasa dan ingin melindungi Gn sebagai orang yang mengerti dengan dirinya.
Subyek
Keempat
Subyek memiliki sifat butchy ketika ia merasa kesepian karena tidak pernah mendapatkan perhatian dan
kasih sayang dari kedua orang tuanya, subyek mencari bentuk kasih sayang di
luar rumah dan mendapatkan seorang teman perempuan bernama Dona. Subyek merasa bahwa dirinya harus bisa
menjadi sosok yang kuat dan bertanggung jawab bagi teman perempuannya, yaitu
Dona.
Kondisi tersebut
subyek jalani karena subyek merasa perlu menjadi pelindung bagi temannya
tersebut. Namun suatu hari kedekatan subyek dengan Dona menimbulkan konsekuensi
bagi keduanya. Tiwy pernah dicium secara
spontanitas oleh Dona, dan hal itu membuat Tiwy kaget, seperti pengakuannya :
Aku pernah dicium sama Dona pas di bibir, waktu itu kita lagi nonton film di
rumahnya…., wahhh…aku kaget banget de…, dan itu pertama kalinya aku
dicium….,sejak hari itu aku merasa bahwa dia butuh aku dan begitu pula
sebaliknya ”.
Kedekatan subyek dengan Dona
akhirnya menumbuhkan hubungan yang spesial bagi subyek. Tiwy merasa telah mendapatkan kasih sayang yang selama ini
diinginkannya. Subyek merasa lebih nyaman dan yakin sebagai butchy bagi Dona, karena subyek
mendapatkan respon kasih sayang dan perilaku tersebut diterima oleh Dona. Status Tiwy sebagai butchy diperkuat dengan seringnya Tiwy datang ke komunitas
lesbian yang ternyata juga merupakan tempat nongkrong
bagi Dona.
Pembahasan
Keempat subyek
memiliki karakter laki- laki karena bila ditinjau dari masa kanak-kanak dan masa puber keempat subyek memiliki
kebutuhan bersosialisasi yaitu dengan kakak-
kakaknya maupun dengan teman laki-laki. Keempat subyek memilih untuk bermain
dengan teman laki-laki, karena jika ditinjau
secara biologis keempat subyek memiliki peningkatan hormon androgen,
yang secara fisik menyebabkan keempat subyek
mengalami perubahan, yaitu menjadi kurang
feminim, rambut tumbuh pada tubuh dan wajah, payudara menjadi lebih kecil serta
klitoris membesar (Llewellyn-Jones, 2005).
Keempat
subyek pernah mengalami
peristiwa traumatis di masa lalunya, hal itu
menyebabkan keempat subyek tidak ingin berhubungan dengan lawan jenisnya dan
memilih untuk menjadi lesbian (butchy).
Keempat subyek pernah mengalami traumatis dengan lawan jenisnya dengan
cara dipaksa untuk melakukan hubungan
seksual, pengalaman itu terjadi ketika keempat subyek belum pernah mengalami dan merasakan
pengalaman seksual sebelumnya. Semenjak
kejadian trauma tersebut keempat subyek mendapatkan bentuk pengalaman yang
berbeda yaitu mendapatkan bentuk kasih sayang dari seorang teman
perempuan dan memilih menjadi butchy.
Keempat subyek kurang
mendapatkan kasih sayang dan dukungan psikis dari orang tua masing-masing
subyek. Keempat subyek memilih untuk mencari
kebutuhan afiliasi tersebut di luar lingkungan keluarga yaitu melalui
teman-teman dari keempat subyek, yang menyebabkan mereka intim, sehingga menjadi salah satu pemicu bagi keempat subyek
untuk menjadi butchy.
Keempat
subyek memilih untuk
berinteraksi ke dalam lingkungan komunitas lesbian. Keempat subyek merasa
membutuhkan afiliasi di dalam kehidupan mereka yang telah mengalami peristiwa traumatis dan tidak
mendapatkan bentuk kasih sayang di dalam keluarga, sehingga keempat subyek
memilih untuk mendapatkan kebutuhan untuk berafiliasi
lewat komunitas lesbian.
Keempat
subyek memiliki konflik
eksternal ketika merasa mereka sebagai butchy
tidak disetujui oleh pihak keluarga kekurangan dalam bentuk kasih sayang yang selama ini tidak didapatkan dari keluarga
dan masyarakat yang menolaknya.
Keempat
subyek memiliki konflik internal yang berbeda-beda, Bebe memilki konflik internal yaitu kecemasan mengenai masa
depannya yang takut tidak bisa menikahi pasangannya, Deri memiliki konflik
batin yaitu kecemasan jika ditinggal sendirian, sedangkan pada Jois dan Tiwy
memiliki konflik dengan pasangannya, adanya perasaan bersalah bagi Jois karena
berbohong dengan pasangannya dan kekecewaan Tiwy terhadap pasangannya karena
telah membohonginya.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
dari hasil penelitian ini bahwa seorang perempuan yang memilih menjadi lesbian
terutama menjadi butchy, memiliki alasan yang berbeda-beda. Proses yang dialami
keempat subyek untuk menjadi butchy
berawal dari peristiwa traumatis di masa lalu, kemudian diiringi oleh faktor
biologis dari segi kepribadian keempat subyek memiliki konsentrasi androgen yang
berlebihan dalam tubuh subyek masing-masing
sehingga menyebabkan keempat subyek berperilaku seperti laki-laki.
Tingkah laku keempat
subyek yang seperti laki-laki ini juga didorong adanya kebutuhan afiliasi dan
kepribadian inversif, ekstrovert terhadap orang lain. Kebutuhan afiliasi ini muncul karena keempat
subyek kurang mendapatkan kasih sayang dan kurangnya dukungan psikis
dari orang tua, sehingga keempat subyek
memilih untuk mencari kebutuhan afiliasi tersebut di lingkungan sosial,
yaitu bersama teman-teman dan komunitas yang baru ditemuinya yaitu komunitas
lesbian. Adanya keinginan untuk berinteraksi yang intensitasnya menimbulkan keintiman antara subyek dengan teman maupun
lingkungan komunitasnya, serta kurangnya perhatian dan kasih sayang dari dalam
keluarga, menjadi salah satu faktor pendorong yang menyebabkan keempat subyek
menjadi butchy.
Setiap
perempuan memiliki harapan
untuk lebih baik mengenai masa depannya. Keempat subyek yang diteliti di atas memiliki harapan yang
berbeda-beda mengenai masa depannya. Ada yang ingin memiliki keluarga yang utuh serta menginginkan sebuah pernikahan
dengan pasangan lesbiannya, seperti yang dialami Bebe dan Deri. Namun,
Deri juga ingin diakui oleh orang lain sebagai seorang butchy. Sedangkan pada Jois dan Tiwy memiliki harapan, yaitu
adanya keharmonisan di dalam sebuah keluarga dan memiliki
kedekatan secara psikis antara orang tua dan
anak, agar subyek bisa merasakan bentuk kasih sayang dan perhatian yang
diharapkan bisa membantu kedua subyek untuk berubah menjadi perempuan normal.
Untuk para lesbian
disarankan untuk lebih membuka diri kepada teman, keluarga bahkan psikolog agar
dapat mengupayakan konsultasi bagi para lesbian supaya beban para lesbian dapat berkurang, bahkan menyembuhkan
gangguan yang dialami lesbian sehingga menjadi normal kembali. Sedangkan
untuk mengurangi traumatik di masa lalu dan mengurangi bentuk emosional,
disarankan agar para lesbian memanfaatkan waktu untuk kegiatan positif.
DAFTAR PUSTAKA
Abrar dan Tamtiari. 2001. Konstruksi Seksualitas: Antara Hak dan Kekuasaan.
Yogyakarta : Pusat
Penelitian Kependudukan Universitas Gajah Mada.
Alsa, A. 2003. Penelitian
Kuantitatif dan Kualitatif Serta Kombinasinya Dalam
Penelitian
Psikologi.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Atkinson, 1999. Pengantar Psikologi. Edisi Kesebelas, Jilid Satu. Alih Bahasa :
Dr. Widjaja Kusuma. Batam Centre :
Interaksara.
Beauvoir, S.D. 2003. Second Sex : Kehidupan Perempuan . Penerjemah : Tono B.
Febriantono,
Nuraini Juliastruti.
Penerbit Pustaka Promothea.
Chaplin J.P. 2002. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta
: PT. RajaGrafindo Persada.
Dayaksini, T dan Hudaniah, 2003. Psikologi Sosial. Edisi Revisi, Malang: UMM Press.
Freud, S. 2003. Teori Seks. Alih Bahasa : Apri Danarto.
Yogyakarta : Penerbit Jendela.
Hakim, T. 2002. Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri. Jakarta:
Puspa Swara.
Hall dan Lindzey, 2003. Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Hery. Satumed.com, 26 Mei 2001. Hubungan Seks Sesama Jenis Semakin Banyak Dilakukan.
Humm,
M. 2002. Ensiklopedia
Feminisme. Penerjemah: Mundi Rahayu. Yogyakarta: Penerbit Fajar Pustaka Baru.
Http://caprius.or.id/ss_column/ susan_0.0.html. Perbedaan
Femme dan Butch. 02 NOP 2018.
Sawitri, 2005. Kasus
Gangguan Psikoseksual.
Yogyakarta : Bunga Rampai
Sears. 1999. Psikologi
Sosial Jilid I . Jakarta. Erlangga.
Sobur. 2003. Psikologi Umum. Bandung : CV. Pustaka
Setia.
Walgito, B. 1993. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta :
Penerbit Andi Offset.
https://media.neliti.com/media/publications/24566-ID-studi-kasus-perempuan-lesbian-butchy-di-yogyakarta.pdf diakses pada
02 nopember 2018 pukul 08:16
