Pengaruh Mahasiswa Apatis Terhadap Perkembangan Kampus | Bahasa Indonesia


Pengaruh Mahasiswa Apatis Terhadap Perkembangan Kampus
Untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah Bahasa Indonesia
Yang dibina oleh ibu Dra. N. Kardinah, M.Pd
Kelas 1A





PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2018

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat illahi rabbi sholawat serta salamnya semoga tercurah limpahkan kepada nabi besar kita yakni nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa kita dari zaman kegelapan sampai ke zaman terang benderang ini sehingga pada kesempatan ini penulis dapat menyelesaikan tugas harian bahasa indonesia dengan keadaan sehat wal’afiat dan tepat pada waktunya. Walaupun proses penulisan ini mengalami beberapa kendala. Namun, berkat kerja keras, ketekunan penulis dan bantuan dorongan maotivasi dari berbagai pihak seperti para sahabat kelas A terutama dosen bahasa indonesia Ibu N. Kardinah, M.Pd baik secara langsung maupun tidak langsung. Alhamdulillah segala kendala itu dapat diselesaikan dengan cepat, mudah dan tidak bertele-tele.
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas Bahasa indonesia yang telah diberikan ibu dosen dengan judul : “Pengaruh Mahasiswa Apatis Terhadap Perkembangan Kampus”. Dengan menyelesaikan makalah ini, penulis berusaha belajar akan pentingnya mengetahui pengertian dan bagaimana sikap mahsiswa apatis tersebut serta pengaruhnya terhadap lingkungan kampus maupun masyarakat. Selain itu, guna untuk menambah wawasan bagi penulis mapupun bagi para pembaca dan menambah wawasan tentang sikap mahasiswa itu sendiri.
Dengan adanya makalah ini harapan saya agar para sahabat mahasiswa khususnya dilingkungan Fakultas Psikologi Prodi Psikologi, dilingkungan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, dilingkungan kampus lain dan umumnya dilingkungan masyarakat lebih mengetahui dari sikap apatis mahasiswa. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dari penyusunan makalah ini. Oleh sebab itu, penting akan saran, kritik dan koreksi yang bersifat  membangun untuk penyempurnaan sangat diharapkan. Walaupun kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Tetapi, tugas manusia adalah menjadi seorang yang lebih baik dari sebelumnya. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat terutama dalam menunjang pelaksanaan perkuliahan dikampus tercinta Fakultas Psikologi UIN Bandung yang sedang kita laksanakan bersa. Terimakasih.



Bab I Pendahuluan
Latar Belakang
Dalam era globalisasi saat ini, banyak berkembang pemikiran dan prinsip yang berbeda. Hal ini berdasarkan akibat dari kemungkinan banyaknya variasi kehidupan individu. Mulai dari ekonomi, sosial maupun budaya. Bangsa indonesia sebagai salah satu negara berkembang, tidak akan maju sebelum memerbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM). Salah satu caranya yaitu dengan menunjang pendidikan yang baik dan fasilitas yang memungkinkan. Dengan sistem pendidikan yang baik memungkinkan perubahan signifikan dalam pola atau cara berfikir masyarakat indonesia itu sendiri. Namun menurut realita yang ada, masyarakat kita masih menganut pola berpikir egois dimana seseorang lebih mengedepankan kepentingan pribadi, hal ini akan berdampak buruk pada kehidupan dalam bermasyarakat. Karena pada kenyataanya, kita dalam kehidupan dikampus saja sudah pasti harus menjalani hidup dengan banyak mahasiswa lain. Apalagi setelah menjadi sarjana, mahasiswa dituntut untuk pengabdian di ruang lingkup yang lebih besar lagi yaitu didalam masyarakat dengan pemikiran, budaya serta status sosial yang beragam dan tanggung jawab yang besar juga.
Salah satu problema yang dominan terjadi dalam kehidupan ini adalah sikap apatisme. Apatisme sendiri dapat didefinisikan sebagai hilangnya rasa simpati, ketertarikan dan antusiasme terhadap suatu objek yang ada. Singkatnya apatisme merupakan hilangnya rasa simpati individu terhadap lingkungannya (Adi Wirawan : 2016). Pada makalah ini, penulis akan mengulas tentang bagaimana apatisme mulai berkembang dalam pemikiran mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Hal ini menyebabkan mahasiswa enggan berpartisipasi dalam mengikutsertakan dirinya untuk mengikuti program kerja serta kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak kampus. Sikap apatis ini dapat memengaruhi perkembangan mahasiswa itu sendiri terutama dalam perannya dikampus, menghambat kemajuan prestasi kampus bahkan memersulit mahasiswa itu sendiri dalam ruang lingkup bermasyarakat.
          Rumusan Masalah
Penulis merangkum beberapa masalah. Diantaranya :
1.      Mengetahui apa itu sikap apatis?
2.      Mengetahui penyebab berkembangnya apatisme dalam kehidupan kampus?
3.      Mengetahui dampak dari sikap apatis?
4.      Mempelajari cara menempatkan sikap apatis dalam kehidupan kampus?

Manfaat
            Ada beberapa manfaat yang dapat pembaca dapatkan. Salah satunya yakni mengetahui apa itu pengertian apatis serta mampu menempatkan sikap apatis dalam kehidupan dikampus sehingga suatu hari dapat terbentuk keselarasan yang baik antara program kerja kampus dengan mahasiswa.



 Bab II Landasan Teori
Apatis berasal dari apatheia Yunani. Pathos dalam bahasa Yunani, berarti "segala sesuatu yang mempengaruhi tubuh atau jiwa" dan keduanya sakit berarti, penderitaan, penyakit, dan keadaan jiwa untuk keadaan eksternal mampu menghasilkan emosi menyenangkan atau tidak menyenangkan, nafsu. Jadi apatheia dapat berarti tidak adanya penyakit, kerusakan organ, seperti kurangnya gairah dan emosi. Apatis adalah kurangnya emosi, motivasi atau antusiasme. Apatis merupakan istilah psikologis untuk keadaan ketidakpedulian, di mana seorang individu tidak menanggapi rangsangan kehidupan emosional, sosial atau fisik. Apatis depresi klinis dianggap tingkat yang lebih moderat dan didiagnosis sebagai gangguan identitas disosiatif dalam tingkat ekstrim. Aspek fisik apatis dikaitkan dengan kelelahan fisik, kelemahan otot dan kekurangan energi disebut letargi, yang memiliki banyak penyebab patologis juga (Kaskus : 2016).

Menurut catatan Luis Rey, sikap apatis merupakan kata yang mengacu kepada istilah kejiwaan, dengan definisi berikut: "Seorang individu ditandai dengan ketidaktertarikan ketidakpedulian atau ketidakpekaan terhadap peristiwa, kurangnya minat atau keinginan"

Mengapa ada mahasiswa apatis
Ada beberapa yang membuat seorang mahasiswa menjadi apatis dan berikut penulis mengutip beberapa point penting (Titi Supriati : 2013) diantaranya sebagai berikut:
1.      Pengaruh lingkungan
Lingkungan sangat mempengaruhi mereka dalam bergerak, kemana pun mereka bertindak akan ada pengaruh dari lingkungan, misalkan lingkungan keluarga yang terlalu membatasi anaknya agar tidak berhubungan dengan dunia luar. Lingkungan teman sebaya, teman yang selalu mengajak kepada hal kebodohan, yang selalu menginginkan kesenangan. Peran lingkungan membentuk manusia dewasa tergantung dari pembekalannya di waktu kecil dan remajanya, orang tua boleh membatasi ruang gerak anaknya, tapi tidak dengan cara terlalu mengekang perkembangan jiwa kritis dan nasionalis anak, orang tua cukup membimbing dan mengawasi pergerakan anak, sejauh mana anak melangkah.

2.      Pengaruh budaya asing
Zaman yang semakin maju dan teknologi yang semakin canggih membuat mereka terlena akan tanggung jawab mereka, melepaskan tanggung jawab yang telah menjadi kewajibannya. Akibat tidak adanya penyaringan budaya dari segi teknologi, pemerintah kurang memerhatikan kondisi ini dan kondisi tersebut merupakan salah satu PR untuk pemerintah beserta peran orang tua selaku pengawas dan pembimbing karakter anak.

3.      Kurangnya pendidikan karakter
Pemerintah sedang gencar-gencarnya mengarahkan pendidikan karakter. Di setiap sekolah wajib melaksanakan pendidikan karakter, guru tidak hanya menyampaikan materi melainkan guru wajib memberi contoh untuk kurikulum 2013 ini yaitu pendidikan yang berkarakter di sisipkan dalam setiap mata pelajaran, contohnya seperti, sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar di dahului dengan membaca ayat suci Al-qur’an. Hasil penelitian membuktikan bahwa perlu adanya kerja sama antara guru dan orang tua, artinya di dalam sekolah orangtua adalah guru dan di rumah orangtua pun harus membimbing putra putrinya, jangan hanya membebankan kepada guru yang waktunya terbatas sedangkan waktu anak banyak di habiskan di luar sekolah. Ini merupakan salah satu cara agar anak nantinya setelah dewasa menjadi mahasiswa berkepribadian baik, berkarakter, kritis dan berjiwa nasionalis.

Kita sepatutnya mengingat pesan alm. W.S. Rendra bahwa, ”Mahasiswa sebagai generasi muda yang ideal adalah yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat, kemudian berbakti pada masyarakat”. Hal tersebut seharusnya menjadi salah satu tuntutan bagi mahasiswa selain menjadi seorang akademisi maka diharapkan juga bisa berbakti kepada masyarakat luas, mengingat mahasiswa seharusnya memiliki sifat dinamis yang jujur dan mengungkapkan yang benar maupun yang salah, mampu membedakan mana yang hak dan mana yang bathil secara terbuka, maka dari situlah mahasiswa memulai perannya di masyarakat salah satunya menjadi penyambung lidah antara masyarakat dan pemerintah. Jika tugas dan tantangan mahasiswa sudah tercapai, kiranya masih adakah kini mahasiswa yang masih asyik bersantai-santai, acuh tak acuh pada masalah sekitar, berkerumun tanpa tujuan, apalagi sampai teracuni hedonisme yang luar biasa. Generasi apatis dan tidak produktif semacam itu bukanlah cerminan mahasiswa yang sesungguhnya. Maka, mari bergerak mahasiswa Indonesia! Terutama mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.



Bab III Pembahasan
Mahasiswa merupakan bagian terpenting dari kampus, sehingga perkembangan dan kemajuan kampus tidak akan pernah lepas dari peran mahasiswa. selain itu, kampus juga berperan peting sebagai pendukung untuk menyediakan sarana yang dibutuhkan oleh mahasiswa. keduanya saling membutuhkan agar program kerja yang telah dibuat dapat terlaksana secara maksimal.
Namun dalam kenyataanya, hubungan antara keduanya tidak berjalan seimbang. hal ini dikarenakan mulai berkembangnya sikap apatis dari mahasiswa yang menyebabkan tidak optimalnya program kerja serta berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak kampus sendiri. ketika saya berbincang dengan beberapa mahasiswa baru dikampus, mereka berpendapat bahwa kegiatan yang diselenggarakan kurang menarik, tidak meriah bahkan diangap tidak penting. pendapat tersebut hanya kritik tanpa adanya solusi dari sikap mereka sendiri. Sama sekali tidak peduli akan lingkungannya. sikap apatis inilah yang membunuh karakter seorang mahasiswa.
Sikap apatis tentunya tidak muncul begitu saja, banyak faktor dan alasan yang menyebabkan mahasiswa fakultas psikologi UIN Bandung memiliki sikap tersebut. dari pengamatan sosial yang saya lakukan, ada beberapa faktor yang menyebabkan berkembangnya sikap apatis dalam kehidupan dikampus fakultas psikologi UIN Bandung (Arnadi : 2012).
Adapun faktor tersebut ialah :
1.      UIN Bandung menjadi alternatif untuk melanjutkan pendidikan
Ketika seseorang berharap diterima disalah satu perguruan tinggi baik swasta maupun negeri, pastilah menjadi kebanggan tersendiri. akan tetapi bagaimana jadinya ketika harapan tersebut tidak sesuai rencana. pastinya kita akan mencari solusi salah satunya yaitu melanjutkan di universitas lain. Akan tetapi, tidak semua pilihan terakhir menjadi sebuah harapan tersendiri. Pasti ada perasaan kecewa tersendiri dari mereka. inilah yang menjadi landasan utama mereka menjadi tidak semangat untuk menjalani hari-harinya. ketika orang lain bersyukur terhadap kesempatan yang diberikan allah untuk melanjutkan jenjang pendidikan. Tidak sedikit juga yang merasa tidak puas terhadap pencapaian yang dimiliki siswa tersebut.
Banyak mahasiswa yang menjadikan UIN Bandung sebagai pilihan terakhir dalam melanjutkan pendidikannya, bahkan ada yang merasa terpaksa untuk melanjutkan kuliah di UIN Bandung. Hal ini menyebabkan kurangnya dukungan diri dari seorang mahasiswa untk memberikan peran terbaiknya pada kampus. Sehingga mahasiswa bersikap apatis dan seolah tidak peduli dengan kegiatan yang ada dikampus.

2.      Tidak mampunya adaptasi dengan lingkungan kampus
Adaptasi merupakan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial disekitarnya. jika seseorang tidak mampu beradaptasi, maka individu tersebut dengan sendirinya akan tersisihkan dari lingkungannya, mereka yang tersisihkan tersebut merasa kurang percaya diri sehingga mereka enggan untuk melibatkan diri dalam berbagai kegiatan dikampus. Maka individu tersebut akan berusaha mencari lingkungannya sendiri. Bahkan berpotensi menjadi oposisi bagi pihak kampus yang tidak pernah mendukung program kerja kampus.

Dari pegamatan yang penulis lakukan khususnya terhadap mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Bandung tidak sedikit mahasiswa yang merasa kurang percaya diri karena ketidakmampuan dalam beradaptasi dengan lingkungan kampus. Sehingga mereka beranggapan bahwa tidak mampu memberikan kontribusinya kepada kampus. Ini merupakan salah satu faktor dari seorang mahasiswa yang enggan mengikuti berbagai aktivitas dan program yang ada didalam kampus.

3.      Kurangnya motivasi berprestasi
Motivasi merupakan dorongan agar kita mampu menjalankan segala sesuatu dengan semangat dalam mencapai tujuannya. Seseorang yang tidak memiliki sebuah motivasi tersebut pasti tidak akan begitu bersemangat untuk menjalani hari-harinya dan cenderung hanya menjalani hidupnya ala kadarnya tanpa adanya target yang jelas. sikap ini merupakan sikap yang sangat merugikan diri sendiri bahkan memberikan dampak negatif tersendiri terhadap individu yang ada disekitarnya.

Kita pasti sering melihat seorang mahasiswa yang hanya mengikuti perkuliahan setiap harinya tanpa berperan aktif didalam kelas. sehingga banyak diantar mereka tidak punya motivasi dan target khusus dan merupakan mahasiswa yang pasif. Mereka enggan untuk mengikuti berbagai kegiatan dikampus, Itulah beberapa faktor mengapa mahasiswa mempunyai sikap apatis.

Dampak yang didapatkan kampus :
Dampak dan pengaruh yang akan terjadi  mahasiswa apatis terhadap perkembangan kampus (Mulyana : 2011) antara lain:
1.      Sulit mendapatkan prestasi
2.      betapa minimnya ide-ide serta kreatifitas dalam menjalankan program kerja.
3.      banyak munculnya kritik tanpa solusi
4.      tidak begitu optimalnya kegiatan yang dilaksanakan dikampus.
5.      munculnya kelompok oposisi
6.      hubungan antara mahasiswa dan fakultas yang kurang baik.
7.      menimbulkan image yang buruk terhadap masyarakat baik dilingkungan fakultas maupun lainnya,
Itulah beberapa pengaruh dari mahasiswa apatis terhadap kehidupan individu dan kehidupan kampus sendiri yang tentunya pasti akan memberikan feedback yang kurang baik terhadap perkembangan kampus. pengaruh tersebut saya ambil dari hasil waawancara dengan beberapa mahsiswa di Fakultas Psikologi UIN Bandung sendiri.
Cara menempatkan sikap apatis
Apatis merupakan sikap anti sosial dimana seorang individu, tidak menanggapai ranngsangan dari suatu stimulus emosional, sosial maupun fisik. Seorang individu pasti sulit bahkan tidak bisa hidup tanpa individu lainnya. Pastilah seorang individu sangat membutuhkan idividu lain untuk keberlangsungan hidupnya sendiri. Berbeda halnya dengan apatis yang enggan peduli terhadap lingkungannya (Disty A : 2014).
Dilihat dari pengertian diatas, sikap apatis memberikan lebih banyak dampak negatif daripada dampak positif positifnya. Namun, sikap apatis sendiri bisa menjadi sebuah manfaat apabila kita melakukan sikap apatis pada waktu dan kondisi yang tepat. Sikap apatis ini, memang bisa dilakukan jika kondisi saat itu dianggap memberikan dapak negatif terhadap diri kita sendiri maupun lingkunganmya. Semisal, pada saat ujian kita sama sekali tidap peduli terhadap teman-teman disekitar. Dalam konteks ini, diperbolehkan dan dianjurkan agar terjadi persaingan yang baik dan sehat rehadap individu lainnya.
Dari penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa sikap apatis tidak sepenuhnya memberikan dapmapak negatif, sikap tersebut juga dapat memberikan dampak yang baik dalam konteks serta keadaan tertentu. Disinilah peran dari setiap mahasiswa yang mesti cerdas dalam menempatkan sikap pada waktu dan situasi yang tepat. Sehingaa setiap langkah yang kita jalani tidak memberikan negatif bagi diri sendiri maupun bagi lingkungannya.




BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Ternyata, mahasiswa apatis memiliki pengaruh besar terhadap kemajuan individu maupun kehidupan kampus, bagaimanapun kampus memberikan berbagai kegiatan jikalau mahsiswa itu sendiri masih acuh terhadap kegiatan itu. Maka dikhawatirkan berdampak lebih besar terhadap diri individu itu sendiri seperti kurangnya pengalaman dalam berorganisasi dll. Selain itu, berdampak pula terhadap keberlangsungan masa depan kampus. Mahasiswa yang kurang aktif dikelas maupun dikampus berdampak terhadap akreditasi misalnya. Hal ini merupakan salah satu hal yang mesti diperhatikan oleh kampus sendiri tertutama diri kita sendiri. Karena saya yakin jika kita ingin merubah suatu kaum, maka ubahlah terlebih dahulu dirimu sendiri.
Penulis berharap makalah ini mampu memberikan manfaat bagi seluruh mahasiswa di indonesia, terutama di kampus UIN Bandung terutama di Fakultas Psikologi UIN Bandung tercinta ini sehingga harapan penulis pada masa yang akan yang datang sikap apatis ini dapat dihindari dalam berbagai kegiatan kampus terutama program kerja intra maupun organisasi ekstra kampus sekaligus meningkatkan kualitas dalam berorganisasi seorang mahsiswa.
Saran
Penulis berupaya untuk mengungkapkan apa yang sedang terjadi dilingkungan kampus saat ini khususnya Fakultas Psikologi UIN Bandung sendiri. Selain itu, harapan lainnya dari penulis agar senantiasa memberikan kitik dan saran yang membangun dari para pembaca sekaligus untuk meningkatkan kualitas makalah ini. Sehingga makalah ini benar-benar menjadi salah satu acuan yang valid, relevan, kredibel dan realiabel dalam kehidupan nyata dewasa ini. Selain itu, dapat dijadikan sebagai acuan yang relevan bagi mahasiswa dalam menanggulangi rasa apatis ini. Khususnya bermanfaat untuk seluruh pembaca baik seluruh mahasiswa maupun masyarakat terutama mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, sehingga setiap program kerja baik organisasi intra maupun ekstra kampus dapat terjalin secara optimal dan tidak lupa akan pentingnya pengajaran dikampus karena kesibukan dalam berbagai kegiatan organisasi itu sendiri.



Daftar Pustaka
            Adi Wirawan, Pengaruh Mahasiswa Apatis Terhadap Perkembangan Kampus : 2013
            Kaskus, Apatisme Bangsa Kita : 2016
            Titi Supriati, Karakter Mahasiswa Apatis : 2013
            Arnadi, Analisis Faktor Pembentuk Sikap Apatisme : 2012  
            Amei Mulyana, Peran Organisasi Dalam Menghadapi Apatisme Mahasiswa : 2011
            Reka Disty, Mahasiswa Apatis Terhadap Kampus : 2014



Related Posts:

0 Response to "Pengaruh Mahasiswa Apatis Terhadap Perkembangan Kampus | Bahasa Indonesia"

Post a Comment